Connect with us

Bolapedia

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Published

on

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Qatar menunjukkan perkembangan signifikan jelang debut mereka di Piala Dunia 2022 ketika menjadi tuan rumah. Keberhasilan Qatar melaju ke partai final Piala Asia 2019 telah menjadi pencapaian bersejarah dalam sepakbola mereka.

Qatar memperlihatkan diri bisa membuat kejutan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Keberhasilan mereka melangkah ke final Piala Asia 2019 dengan skuad muda menjadi indikasi pasukan Felix Sanchez Bas tidak mau sekadar jadi penggembira.

Tim berjuluk Al-Annabi melangkah ke final bersua Jepang pada babak final Piala Asia 2019 di Zayed Sport City, Uni Emirat Arab (UEA) nanti malam. Sebenarnya, kalah atau menang melawan Jepang, Qatar sudah memperlihatkan mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka sudah mengejutkan Piala Asia. Berstatus non-unggulan, Hasan Al Heidos dkk mematahkan prediksi dengan keluar sebagai juara Grup E. Berturut-turut Qatar menyingkirkan tim-tim kuat macam Irak 1-0 (16 besar), Korea Selatan 1-0 (perempat final), dan tuan rumah UEA 4-0 (semifinal). Hebatnya, Qatar melaju ke final dengan rekor 100%.

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Pemain Qatar (Dok. Onbet 789)

Qatar sukses menembus babak puncak turnamen untuk pertama kalinya berkat aihan kemenangan besar 4-0 atas tuan rumah Uni Emirat Arab (UEA) dalam laga semi-final, Selasa (29/1) kemarin.

Sebuah prestasi yang sangat diapresiasi oleh pelatih mereka, Felix Sanchez Bas, yang memberikan kredit khusus kepada kinerja Federasi Sepakbola Qatar (QFA) dengan program bermanfaat bagi kemajuan sepakbola.

Bas menilai, program yang telah dirancang matang menjadi poin penting mencuatnya Qatar di Piala Asia 2019. “Kami telah mendapatkan banyak kepercayaan diri. Tetapi, apa yang kami perlihatkan sejauh ini bukanlah sebuah kejutan. Kami telah bekerja keras mencapai tahap ini selama bertahun-tahun,” ungkap Bas dilansir bandarjudiqq daftar99.

Meski telah menembus final Piala Asia pertama kalinya sepanjang sejarah, Bas mengatakan pasukannya termotivasi membawa Qatar meraih trofi perdana di turnamen kompetitif. Guna mewujudkannya, Bas bakal memaksimalkan komposisi terbaik. Almoez Ali yang merupakan pencetak gol terbanyak sementara Piala Asia 2019 dengan delapan gol diplot sebagai andalan lini depan.

Qatar tinggal selangkah lagi untuk bisa mewujudkan sejarah lainnya dengan menjadi juara Piala Asia apabila mampu mengalahkan raksasa Asia, Jepang di Zayed Sports City Stadium, Abu Dhabi, Jumat ini.

Continue Reading

Bolapedia

Liga Inggris Pekan Ini Sukar Ditebak, Nasib Prediksi?

Published

on

Liga Inggris Pekan Ini Sukar Ditebak, Nasib Prediksi?

Anggapan bahwa liga Inggris pekan ini sangat susah ditebak atau diprediksi memang tepat. Tim raksasa sekelas Arsenal berhasil ditaklukkan oleh klub Tottenham Hotspur. Kemenangan ini juga menjadi tonggak dari klub ini dalam menutup buku rekor hitamnya.

Klub yang kerap disebut sebagai The Lilywhites ini dalam klasemen akhir liga Inggris sudah dipastikan akan berada di atas tim Arsenal. The Gunners berakhir dengan catatan buruk. Tim ini mengukir catatannya saat melakoni laga di White Hart Lane.

Dilansir dari bandarjudiqq 66, Arsenal dihantam kekalahan dengan skor dua gol tanpa perlawanan. Tentu saja ini hal yang memalukan bagi The Gunners, sedangkan bagi The Lilywhites pertandingan ini merupakan laga yang sangat membanggakan. Kedua tim ini mempunyai selisih yang cukup lebar, yakni mencapai 17 angka.

Tetapi keuntungan didapatkan oleh Spurs, sebab Arsenal hanya memiliki lima laga lagi, maka sudah jelas tidak mungkin untuk menyusul apalagi mengalahkan peringkat dari tim asuhan Maurido ini.

Maurido Pochettino menyebutkan bahwa tim asuhannya sudah menunggu lama untuk memenangkan finish di atas klub Arsenal. Pelatih sekaligus manajer ini mengatakan bahwa klubnya harus menunggu selama 22 tahun untuk merayakan kemenangan ini.

Maka dari itu, strategi serta pemain yang tepat, dengan keahlian dan posisi yang tepat, akan membuat klub ini terus berjaya dalam laga. Tetapi liga Inggris pekan ini memang sukar diprediksi. Gelar juara merupakan hal paling utama yang dicari oleh seluruh klub liga Inggris.

Dengan penampilan yang sempurna serta manuver yang cantik dan canggih, Maurido optimis bahwa timnya akan membawa gelar juara. Secara komprehensif, tim asuhannnya memang mempunyai kelebihan dan layak untuk memang. Maka sangat wajar jika Maurido sangat percaya diri.

Baginya ini merupakan keberhasilan dirinya dalam mengasuh dan membina serta mengelola klub. Dengan menargetkan diri untuk menyabet gelar juara liga, perjuangan sudah hampir selesai. Hanya saja perlu diingatkan kembali bahwa liga Inggris pekan ini sangat sukar ditebak, sehingga dibutuhkan analisis yang sangat mendalam untuk mengerti jalannya laga.

Continue Reading

Bolapedia

Mengubah Citra Klub Sepakbola Lewat Sponsor

Published

on

Mengubah Citra Klub Sepakbola Lewat Sponsor

Dari keripik, cat tembok, operator telepon selular, perusahaan perjudian, sampai maskapai penerbangan. Endorsement bernilai tinggi adalah hal menggiurkan bagi klub sepakbola. Tetapi apakah itu sebanding dengan yang didapatkan klub?

Musim ini Liverpool mengumumkan kerja sama dengan maskapai penerbangan negara kita, Garuda Indonesia. Lambang satu dari beberapa kebanggaan negara ini terpampang di kaus (latihan), jaket, papan iklan stadion, dan tempat-tempat menarik lainnya yang berkaitan dengan Liverpool.

Pemasaran adalah segalanya bagi endorsement. Ini adalah alasan utama Manchester United yang tidak sukses musim lalu, justru mendapatkan pemasukan yang melebihi tim-tim yang sekarang berlaga di Liga Champions.

Meski kebangkitan sponsorship dalam sepakbola bisa dikatakan mendatangkan gelontoran uang banyak, tak jarang hal ini harus ditukar dengan “jiwa” klub sepakbola sendiri. Ya, inilah realita klub modern yang harus menukar esensi demi menjaga eksistensi dan kondisi keuangan mereka sendiri.

Asia sebagai Pabrik Sponsor

Sejak papan iklan menjadi tren di sepakbola Inggris pada tahun 1970-an, uang sponsor sudah merambat dan menggerogoti setiap sisi stadion dan setiap helai jersey yang dipakai oleh para pemain.

Pada Juli 1979, Liverpool-lah yang membuat tren penggunaan sponsor pada seragam sepakbola menjadi booming. Saat itu, mereka dikontrak oleh Hitachi. Pabrik elektronik asal Jepang tersebut dikabarkan membayar 50 ribu pounds untuk sponsorship itu, satu nilai yang sangat ‘wah’ pada masanya.

Meski banyak klub mengikuti jejak Liverpool, penggunaan sponsor pada seragam tim sempat dilarang sampai tahun 1983. Saat itu sempat terjadi kasus mencengangkan ketika Coventry City ingin mengubah namanya menjadi Coventry Talbot, yang diambil dari nama perusahaan mobil lokal.

Sekarang, Liga Premier Inggris sudah lebih dari dua dekade menampilkan nama sponsor di depan namanya. Ini memang menjadi tamparan sekaligus menjadi kebangkitan dari potensi yang dimiliki pemasaran dalam sepakbola.

Dalam satu dekade saja banyak hal yang dulunya dianggap tabu menjadi terlihat biasa saja: hak penamaan stadion, background pada konferensi pers yang menampilkan logo-logo sponsor, papan iklan di stadion, iklan di media klub, bahkan pengubahan nama klub.

Liga Inggris memang telah menjadi alat pemasaran terbesar dalam dunia olahraga bersama Formula 1 (yang seragam dan mobilnya dipenuhi banyak sekali sponsor). Bedanya, di Liga Inggris, bahkan tim kecil sekalipun bisa berpotensi menjadi alat pemasaran.

Sebagai raksasa industri, China pertama kali menginjakkan kakinya di Liga Premier dengan mensponsori Everton pada musim 2002-2003. Mereka menggunakan Kejian, perusahaan telepon genggam, sekaligus bersedia membayar gaji pemain China yang bermain di Everton, Li Tie.

Bagi klub, menggunakan merek dari Asia bisa menjadi hal bagus. Mereka bisa mendapatkan ekspos, fans baru, dan uang yang bisa mereka habiskan untuk apa saja.

Mesin Komersial Penghasil Uang

Berdasarkan laporan Deloitte musim lalu, Manchester United mendapatkan 363,2 juta poundsterling dari pendapatan matchday, hak siar, dan komersial. Angka ini adalah angka yang paling besar di antara seluruh tim Liga Inggris lainnya. Di bawah mereka ada tim tetangga, Manchester City, dengan angka 271 juta poundsterling.

Patut diperhatikan bahwa 42% pendapatan MU berasal dari sektor komersial, melebihi matchday dan hak siar. Mereka memiliki 40 kontrak resmi yang mengkomunikasikan seluruh dunia. Dari wine asal Chile (Casillero del Diablo) sampai perusahaan keripik asal Malaysia (Mister Potato), sangat mudah melihat kekuatan komersial The Red Devils. Mereka memiliki strategi komersial yang terstruktur dan orang-orang yang tepat untuk mengiklankan klub dan juga sponsor mereka.

Otak di balik deal pemasaran MU adalah Richard Arnold, sang direktur komersial. Tidak heran, MU yang terletak di kota Manchester, memiliki kantor pusat pemasaran mereka di kota London.

Pekerjaan Arnold tidaklah mudah, ia harus merinci banyak kontrak potensial yang dijejalkan kepada klub untuk kemudian dipilih beberapa saja yang paling potensial. Untuk mendukung keputusannya itu, ia dan klub sampai membuka “kantor cabang” di Hong Kong dan juga satu lagi yang rencananya akan dibuka di New York.

Jika melihat kasus ini, kita bisa mengira-ngira bahwa tim-tim kecil memang tidak memiliki kesempatan sebesar MU. Tercatat, sesuai dengan laporan Deloitte juga, hanya kemampuan finansial City yang mampu menyaingi pasar MU secara global.

Masih menurut Deloitte, kesempatan terbesar mengenai dana selalu berasal dari sektor maskapai penerbangan. Maskapai penerbangan ini memang sangat bersifat internasional, begitu pula dengan kartu kredit dan perusahaan telepon genggam.

Hal ini menyebabkan terbatasnya deal yang bisa klub jalankan bersama perusahaan-perusahaan di atas. Biasanya, hanya satu saja dari masing-masing perusahaan di atas yang bisa melakukan perjanjian kerja sama dengan klub.

Ditambah lagi kebijakan dari masing-masing negara (asal perusahaan), maka klub tidak bisa seenaknya melakukan kesepakatan dengan lebih dari satu perusahaan besar di suatu negara.

Perusahaan akan mendapatkan nilai tambah, sementara fans juga pasti mau memakai produk yang berkaitan dengan klub yang mereka bela. Secara teoritis, lebih banyak sponsor, maka akan lebih banyak juga uang yang akan datang.

Musim lalu saja misalnya, kita bisa melihat wajah Wayne Rooney sebagai bintang iklan Mister Potato (bahkan bermain video klip bersama dengan Nidji dan Mister Potato).

“Dapatkah Anda memberitahu kepada saya apa itu Mister Potato sebelum iklan ini muncul?” tanya Arnold, khususnya kepada mereka yang bukan berasal dari negara Asia Tenggara yang sudah sedikit familiar dengan merek keripik kentang itu.

Itulah kekuatan pemasaran sebagai brand awareness.

Klub Menjual Diri

Meski membutuhkan gelontoran uang, tak semua sponsor bisa diambil klub, meski mereka menawarkan nilai yang fantastis. Klub, terutama mereka yang besar, tetap perlu berkalkulasi terutama untuk menjaga citra positif.

Mereka tidak mau dengan mudahnya menjual diri mereka, tidak seperti tim-tim kecil atau tim dari liga seperti liga di Skandinavia yang bisa sampai memiliki 15 sponsor di seragam, yang diletakkan sampai ke bagian belakang baju, lengan, celana, bahkan kaus kaki.

Barcelona menjadi contoh yang meninggalkan image mereka dengan menandatangani kerja sama sponsor bersama Qatar Airways. Padahal sudah 100 tahun lebih seragam mereka dijaga kesuciannya dari “kotornya” komersialisasi.

“Jika kita mau menjadi tim paling top, kita butuh dana,” kata Sandro Rossell, mantan presiden Barcelona.

Namun, tidak semua kesepakatan sponsor berjalan dengan damai. Kadang pemasaran menimbulkan banyak perdebatan, terutama bagi para fans.

Tetapi ini tidak menghalangi klub untuk melakukan kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan. Bahkan caranya pun kian kreatif, yaitu dengan dengan menjual fasilitas klub untuk penamaan serta re-brand, seperti kasus Cardiff City yang mengubah warna klub mereka dari biru ke merah.

Contoh lainnya juga ada pada klub Kota New York, Salzburg, dan Leipzig yang semuanya disponsori oleh Red Bulls. Secara otomatis nama klub mereka berubah.

“Saya lebih rela jika klub menjadi komersil, tetapi kita bisa bersaing di tingkat atas daripada harus menjadi klub semenjana. Saya memang tidak senang, tetapi tidak ada pilihan lain,” kata Peter Ribbons, seorang fans Cardiff.

Tidak semua fans senang dengan perubahan ini. Cardiff, yang kini harus kembali berlaga di Championship akibat degradasi dari Liga Primer pada musim lalu, dijanjikan oleh pemilik klub (Vincent Tan) untuk kembali memakai warna biru jika mereka bisa kembali ke Liga Primer secara instan musim depan.

Protes keras fans juga terjadi di Salzburg. Setelah Red Bull Salzburg terbentuk. Salah seorang fans berujar, “Ini adalah klub baru yang tidak memiliki sejarah”. Apa mau lacur, seragam Salzburg yang tadinya berwarna ungu pun diganti dengan cuma-cuma menjadi warna merah dan biru.

Mereka memang sukses menjuarai Liga Austria lima kali. Namun, saking muaknya, ribuan fans idealis pun lalu membuat klub sendiri yang berwarna ungu, SV Austria Salzburg.

Kesimpulan

Sponsor adalah sebuah model bisnis yang kuat yang dapat menjadi faktor eksternal yang berpengaruh bagi internal tim di atas lapangan. Dari segi bisnis, sponsor sebagai pemasaran sepakbola adalah hal menguntungkan.

Namun, hal ini juga seringkali menciptakan citra tertentu bagi klub. Tinggal sebesar apa pengaruh image (citra) sponsor tersebut pada identitas klub yang telah terbentuk selama puluhan, bahkan ratusan, tahun. Satu hal yang jelas: semakin besar image yang diciptakan sponsor, tentunya akan semakin besar juga uang yang klub dapatkan.

Apakah uang adalah segalanya di sepakbola? Untuk sementara jawabannya adalah “Ya. Benul: benar dan betul!”, dan mungkin jawaban ini akan bertahan untuk waktu yang sangat panjang.

Continue Reading

Bolapedia

Pjanic, Lyon, dan Juninho Pernambucano

Published

on

Pjanic, Lyon, dan Juninho Pernambucano

Juventus akan bertandang ke markas Olympique Lyon pada matchday 3 Grup H Liga Champions Eropa 2016/2017 yang digelar Rabu, 19 Oktober 2016. Namun laga ini tampaknya akan menjadi spesial tersendiri bagi salah satu penggawa Juventus, Miralem Pjanic, karena ia pernah membela Lyon selama tiga musim.

Hubungan Pjanic dan Lyon memang cukup spesial. Gelandang asal Bosnia & Herzegovina ini mengalami perkembangan pesat setelah bergabung ke kesebelasan yang bermarkas di Parc Olympique Lyonnais ini. Bahkan bisa dibilang, jika ia tak singgah ke Lyon, mungkin Pjanic tak akan bisa menjadi Pjanic yang seperti sekarang ini.

Sebelum memilih Lyon, Pjanic sebenarnya dihadapkan oleh banyak pilihan yang lebih menggiurkan. Real Madrid, Barcelona, Arsenal, Chelsea, Bayern Munich, Juventus, AC Milan dan Internazionale Milan, hingga Olympique Marseille dikabarkan tertarik memboyongnya dari FC Metz yang Pjanic bela saat itu.

Miralem Pjanic

Miralem Pjanic (Dok. Senior Master Agen)

Tapi keputusannya memilih Lyon ternyata sangatlah tepat. Di Lyon, ia mendapatkan mentor spesial, yakni Juninho Pernambucano. Keduanya memang berposisi sama, gelandang serang. Juninho sendiri saat itu merupakan salah satu ikon Lyon.

Kemampuan Juninho pun kemudian banyak terserap pada permainan Pjanic. Secara permainan, keduanya memang memiliki gaya yang tak jauh berbeda. Tak memiliki keunggulan pada kecepatan, skill individu di atas rata-rata, visi bermain mumpuni, serta memiliki umpan-umpan yang akurat.

Namun yang paling diwariskan Juninho pada Pjanic adalah kemampuan dalam mengeksekusi tendangan bebas. Bersama Juninho, Pjanic terus berlatih tendangan bebas, sementara saat itu ia tak banyak mendapatkan kesempatan bermain (hanya lima kali bermain sejak menit pertama). Juninho memang dikenal sebagai raja tendangan bebas kala itu.

“Mire selalu tertarik dengan teknik tendangan bebas saya,” ujar Juninho pada 2015 seperti yang dilansir ESPNFC. “Ia selalu bersama saya setelah latihan berakhir untuk berlatih tendangan bebas. Kami mendiskusikan banyak hal.”

“Saya masih mengingat bagaimana ia berusaha keras. Saya mengatakan padanya bahwa mengulangi hal yang sama adalah hal yang paling penting untuk menjadi seorang eksekutor tendangan bebas yang handal. Mungkin melelahkan, tapi itu adalah hal terpenting,” tutur gelandang asal Brasil tersebut.

Hal di atas pun diakui Pjanic. Ia mengakui berkat Juninho-lah dirinya bisa menjadi sekarang ini, raja tendangan bebas. Gelandang berusia 26 tahun ini pun melakukan apa yang dikatakan Juninho, khususnya terkait terus menerus berlatih tendangan bebas.

“Saya berlatih sekitar 10 ribu tendangan bebas dari segala sudut di lapangan. Seharusnya butuh 10 tahun untuk mempelajarinya, tapi saya mendapatkan bantuan dari Juninho,” tutur Pjanic seperti yang dikutip football-italia.

Namun kebersamaan Pjanic dan Juninho di Lyon hanya bertahan selama satu musim saja. Pada awal musim 2009/2010, Juninho bermasalah dengan pemilik Lyon, Jean-Michel Aulas. Kontraknya yang masih tersisa satu tahun diputus, di mana kemudian Juninho memilih kesebelasan asal Qatar, Al-Gharafa, sebagai pelabuhan berikutnya.

Berakhirnya era Juninho bersama Lyon yang berjalan selama delapan musim menjadi awal kemunculan Pjanic bersama Lyon. Bahkan Pjanic dengan percaya diri mengambil nomor punggung delapan yang merupakan nomor kebesaran Juninho setelah Juninho hengkang.

“Pada tahun 2009, sebelum musim dimulai, saya meminta izin pada Juninho untuk menggunakan nomor punggungnya,” tutur Pjanic seperti yang dikutip harian Bosnia, Bosnische. “Ia tak memberikan saya tekanan, ia justru memberi saya banyak dukungan.”

Setelah itu, Pjanic mulai memamerkan kemampuan tendangan bebasnya yang ia pelajari selama satu musim bersama Juninho. Bahkan gol pertamanya untuk Lyon pun ia ciptakan lewat tendangan bebas saat Lyon bersua Anderlecht di ajang Liga Champions.

Namun pada musim berikutnya, 2010/2011, kariernya di Lyon mulai terganggu setelah Lyon mendatangkan pemain yang seposisi dengan dirinya, Yoann Gourcuff. Di awal musim, pelatih Lyon saat itu, Claude Puel, lebih memilih Gourcuff ketimbang Pjanic. Namun pada pertengahan musim, Puel mencoba memasang Gourcuff dan Pjanic secara bersamaan. Hanya saja skema ini tak berjalan efektif, di mana akhirnya keduanya sering bergantian mengisi susunan pemain.

Meskipun begitu, hal tersebut tak memengaruhi ketertarikan AS Roma untuk mendatangkannya. Sempat bermain di lima pertandingan Lyon pada awal musim 2011/2012, gelandang kelahiran 2 April 1990 ini diboyong Roma dengan nilai transfer 11 juta euro pada tenggat transfer musim panas 2011.

Bersama Roma, Pjanic semakin memamerkan kemampuan eksekusi bola matinya. Bahkan pada 2015, sang guru, Juninho, tak sungkan untuk mengatakan bahwa Pjanic merupakan eksekutor tendangan bebas terbaik saat ini.

“Sulit membandingkan dirinya dengan saya, karena saya tidak suka membicarakan diri saya sendiri dengan berlebihan. Tapi Mire memiliki kualitas. Ia mungkin merupakan eksekutor tendangan bebas terbaik dunia saat ini,” ujar Juninho seperti yang dikutip L`Equipe.

“Tidak, saya sangat yakin: Dia adalah yang terbaik. Tendangannya sangat efisien dan konsisten. Itu adalah hal yang paling sulit. Terlebih, ia memiliki banyak variasi tendangan, bergantung pada jarak tembak,” tuturnya

Hal inilah yang mungkin membuat Juventus dengan berani mengaktifkan klausul transfer Pjanic bernilai 38 juta euro dari AS Roma pada musim panas 2016. Karena seperti yang kita ketahui, Juventus tak memiliki pemain spesialis tendangan bebas setelah berpisah dengan Andrea Pirlo pada akhir musim 2014/2015.

Sekarang, Pjanic akan kembali ke Parc Olympique Lyonnais. Meski kini telah berseragam Juventus, ingatannya tentang seragam Lyon yang ia bela selama tiga musim tentu saja akan langsung kembali muncul. Akan menarik jika nantinya Pjanic berhasil membawa Juventus mengalahkan Lyon dan turut mencetak gol dan golnya dicetak lewat tendangan bebas. Jika hal itu terjadi, Juninho pasti akan tersenyum lebar.

Continue Reading

Trending