Connect with us
Link Alternatif SBOBET

Bolapedia

Football Leaks Beberkan Sisi Gelap Sepakbola

Published

on

Cristiano Ronaldo terjerat masalah pemerkosaan, sejumlah kesebelasan top Eropa terungkap hendak menyiapkan Liga Super Eropa untuk musim 2021/22 mendatang, Manchester City dan Paris Saint-Germain kemudian dianggap melakukan tindakan ilegal untuk mengakali Financial Fair Play. Semua kabar menghebohkan itu merupakan sedikit hasil investigasi Football Leaks terhadap sisi gelap sepakbola.

Football Leaks mulai dikenal pada November 2015 lewat blog footballleaks2015.wordpress.com. Sebelum itu, mereka beraksi lewat situs Live Journal, yang setelah dua bulan menyajikan sejumlah fakta-fakta yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum dari sepakbola itu, akun mereka ditangguhkan.

Awalnya tidak semua data dan fakta yang disajikan Football Leaks merupakan sisi gelap sepakbola. Mereka lebih sering mengunggah dokumen-dokumen resmi di industri sepakbola dimulai dari kontrak pemain, dokumen transfer pemain, laporan keuangan kesebelasan, serta dokumen-dokumen resmi yang memang jarang diketahui khalayak.

Namun setelah mencermati dokumen-dokumen tersebut, Football Leaks kerap menemukan kejanggalan sehingga data yang diungkapkan mereka menjadi informasi yang menghebohkan. Kecurangan-kecurangan sejumlah pihak mulai diungkap oleh sejumlah media yang memang memberikan kesempatan untuk menginvestigasi dokumen dari Football Leaks. Dari situlah sisi gelap sepakbola dunia sedikit demi sedikit mulai terungkap.

Jika kalian ingat adanya kasus pajak yang melanda sejumlah pemain di Spanyol, yang di antaranya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, semua itu berasal dari dokumen yang diunggah Football Leaks. Pun begitu dengan kecurigaan-kecurigaan di sejumlah media terhadap pihak ketiga yang terlibat dalam kontrak pemain atau pembelian pemain bahkan pembelian kesebelasan.

Tujuan lahirnya Football Leaks sendiri memang mengajak semua pihak untuk mengetahui kecurangan-kecurangan yang ada di sepakbola. Seorang bernama “John” yang tentunya merupakan nama samaran dari seorang peretas pada situs Football Leaks mengatakan bahwa: “Ini merupakan kontrak dan klausul rahasia yang bisa membunuh olahraga ini.”

Link Alternatif SBOBET

Football Leaks Mengungkap Sisi Gelap para bintang Sepakbola (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Saat pindah ke blog WordPress, mereka juga mengatakan: “Kami di sini sambil mencari hostingbaru. Tapi kami kembali di laman ini tetap dengan upaya memberikan lagi lebih banyak pengungkapan dan kecurigaan tentang dunia sepakbola.”

Football Leaks memang menjadi seperti WikiLeaks (situs yang menyebarkan data-data rahasia) versi sepakbola. Karena setiap data dan fakta yang berasal dari Football Leaks tidak bisa dianggap sebelah mata atau angin lalu.

Kesebelasan Belanda, FC Twente, saat ini dihukum tidak boleh berkompetisi di Liga Champions dan Liga Europa UEFA selama tiga tahun karena data dari Football Leaks berhasil membuktikan bahwa proses transfer mereka melibatkan pihak ketiga di mana hal itu dilarang di sepakbola Eropa, khususnya Belanda. Kasus ini, yang diusut pada September 2015, menjadi kasus pertama yang melibatkan Football Leaks.

Football Leaks tidak rutin memberikan data dan fakta pada laman WordPress-nya itu. Mereka pun beberapa kali vakum untuk mengumpulkan dokumen-dokumen baru. Pada Desember 2016, mereka lantas bekerja sama dengan sejumlah media untuk menjadi investigator dengan mendirikan European Investigative Collaborations (EIC). Kemudian terungkap bahwa Football Leaks memiliki sekitar 18,6 juta dokumen (termasuk kontrak, isi surel terkait, dan data-data lain) untuk diteliti oleh anggota EIC yang diperkirakan merupakan 60 jurnalis dari 12 media di Eropa.

Senior Master Agen

Pemain bintang Barcelona juga menjadi incaran Football Leaks (Dok. Senior Master Agen)

Pada 2018, Football Leaks baru kembali menjadi perhatian dunia setelah media asal Jerman yang merupakan bagian dari EIC, Der Spiegel, mengungkap kasus tuduhan pemerkosaan Ronaldo pada seorang perempuan Amerika Serikat.

Lima investigator mereka —Rafael Buschmann, Christoph Henrichs, Gerhard Pfeil, Antje Windmann dan Michael Wulzinger— bahkan sudah mengungkapnya sejak April 2017. Namun karena gagal menyita perhatian publik, Spiegel kembali mengangkat kasus ini pada September 2018 dengan memperkenalkan sosok korban pemerkosaan Ronaldo, yang kemudian berhasil menjadi perhatian publik hingga saat ini.

Masih menurut Der Spiegel, John sudah tak lagi ingin publik hanya mengetahui detail-detail kontrak pemain dan sejenisnya tanpa mengetahui masalah yang lebih besar. John ingin publik langsung mengetahui masalah besar apa yang sebenarnya tak diketahui para pendukung dan penonton sepakbola. Singkatnya, John ingin memberi tahu khalayak bahwa ada kekuatan-kekuatan tak terlihat yang coba mengendalikan sepakbola dunia.

“Fans harus mengerti atas setiap tiket, setiap jersey yang mereka beli dan dengan setiap televisi berlangganan, mereka sedang memberi makan sebuah sistem korupsi yang sangat ekstrem untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,” kata John seperti yang diungkap Der Spiegel.

Menurut Der Spiegel, pada Desember 2016, John memberikan 8 hard disk portabel yang berisi data-data kesepakatan, isi surel, data Word, data Excel, dan foto-foto yang bersifat rahasia pada anggota EIC. Data tersebut jika dijumlahkan mencapai 1,9 terabytes, yang menurut Spiegel setara dengan 500 ribu alkitab.

Kini data-data rahasia sudah semakin bertambah. Football Leaks mengungkap kini mereka sudah memiliki 70 juta dokumen yang sudah dikompilasi dalam 3,9 terabytes data. Anggota EIC pun kini sudah bertambah menjadi 15 media, 80 jurnalis dari 13 negara dan merilisnya lewat 11 bahasa berbeda di Eropa.

Kasus Ronaldo memang hanya satu dari sekian banyak kasus yang diungkap EIC bersama Football Leaks. Masih banyak kasus lain yang sudah disingkap EIC sejak awal 2017. Kasus apa saja itu? Mari kita mengikuti jejak Football Leaks dalam upayanya menyingkap sisi gelap sepakbola dunia, khususnya Eropa.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bolapedia

Pengaturan Skor, Bandar Judi, dan Lagu Lama Sepakbola Indonesia

Published

on

Hantu” sepakbola Indonesia bukan cuma kegagalan-kegagalan, tapi juga pengaturan skor. Pada acara Mata Najwa bertajuk “PSSI Bisa apa?” pada 28 November 2018 lalu, Januar Herwanto, manajer Madura FC, salah satu kontestan Liga 2, mengaku pernah ditawari melakukan pengaturan skor. Tak main-main, menurut Januar, orang yang menawarinya itu adalah anggota Komite Khusus PSSI dan menyebut nama.

Kala itu, pada babak penyisihan Liga 2, Madura FC diminta mengalah saat bermain melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun, Januar menolak ajakan tersebut. Dalam pertandingan yang digelar pada tanggal 2 Mei 2018 tersebut, Madura FC pun akhirnya menang dengan skor 1-2.

“Jadi oknum Exco (PSSI) itu awalnya minta ketemu saya sebelum pertandingan saat laga babak penyisihan, kami away ke Sleman. Komunikasi itu mulai tanggal 1 dan 2 Mei lalu,” kata Januar, dilansir dari CNN Indonesia.

Madura FC tidak hanya satu dua kali mendapatkan tawaran seperti itu. Mereka beberapa kali diiming-imingi segepok uang jika menyetujui permintaan pengaturan skor. Namun, baru saat menghadapi PSS Sleman itulah Madura FC mendapatkan tawaran yang melibatkan anggota PSSI. Kekecewaan Januar pun menjadi-jadi, sehingga ia berani bicara blak-blakan di depan publik.

“Selama ini tawaran ada dari teman-teman, kami tolak dan biarkan. Tapi ini petinggi PSSI yang bermain dengan makelar. Menjijikkan sekali,” tandas Januar kepada BBC Indonesia.

Yang menarik, Bambang Suryo, mantan pelaku pengaturan skor yang juga hadir dalam acara Mata Najwa, lantas membeberkan alasan mengapa sepakbola Indonesia rentan terhadap pengaturan skor. Menurutnya, industri sepakbola Indonesia yang tidak sehat secara finansial menjadi sasaran empuk para bandar judi. Dan menyoal fulus, bagi siapa pun yang tidak “sehat”, perjudian jelas bisa menjadi jalan pintas.

Setidaknya, Ramang, Skandal Senayan, dan kompetisi Galatama pernah menjadi bukti ucapan Bambang itu.

Noda dalam Karier Gemilang Ramang

Senior Master Agen

ramang pemain sepakbola indonesia (Dok. Senior Master Agen)

Ada banyak cerita tentang kehebatan Ramang, mantan penyerang timnas Indonesia pada tahun 1950-an. Bahkan, karena saking hebatnya pemain andalan PSM Makassar itu, cerita-cerita kehebatannya menyerupai mitos.

Diwartakan Tempo (“Ramang Sudah Pergi”;3 Oktober 1987), Ramang adalah seorang penyerang tengah yang memiliki naluri gol maha dahsyat. Pada eranya, ia merupakan satu-satunya pemain Indonesia yang mampu mencetak gol melalui tendangan salto. Saat mengambil tendangan penjuru, tendangannya juga tak jarang langsung menghujam ke gawang lawan. Gol melalui tendangan first time, bukan barang langka.

Kalau kata Maulwi Saelan, kiper timnas Indonesia era 1950-an, “Dia (Ramang) bisa menembak ke gawang dengan posisi apa pun.”

Kehebatan Ramang paling diingat tentu saja saat ia berhasil mengobrak-ngabrik pertahanan Uni Soviet dalam gelaran Olimpiade Melbourne 1956. Ia tak mampu mencetak gol, ia sukses membuat Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet, jungkir balik mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Karenanya, dalam pertandingan ulang, ia lantas mendapatkan perhatian khusus dari Uni Soviet: Igor Netto, kapten Uni Soviet, diberi tugas untuk mematikan Ramang.

Sayangnya, kisah tentang Ramang ternyata tak melulu tertulis dengan tinta emas. Pada 1961 lalu, tepatnya dalam Kejurnas PSSI 1961 (Perserikatan), Ramang pernah mendapatkan sanksi larangan bertanding sumur hidup. Alasannya: Ia terlibat dalam pengaturan skor.

Semua bermula saat PSM Makassar, klub Ramang, bertanding melawan tuan rumah Persebaya Surabaya. Di atas kertas PSM Makassar sebetulnya bisa menang mudah, mengingat Persebaya Surabaya masih merupakan klub bau kencur. Namun, setelah PSM sempat unggul 1-3 pada babak pertama, Persebaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Banyak pihak lantas curiga bahwa pertandingan itu tidak berjalan normal, terlebih saat melihat para penyerang PSM yang terlalu sering membuang-buang peluang.

PSM lalu membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki pertandingan itu. Setelah melakukan penyelidikan selama beberapa minggu, tim investigasi menemukan bukti bahwa pengaturan skor terjadi dalam pertandingan itu. Yang mengagetkan, Ramang dan Noorsalam ternyata menjadi dalang di balik pengaturan skor itu.

Meski begitu, hingga ia meninggal pada 26 September 1987 lalu, Ramang tak pernah mengakui bahwa ia terlibat dalam pengaturan skor. Kepada Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”;7 April 1984), ia mengatakan, “Waktu itu, ada orang yang sentimen dengan saya. Lalu melapor kepada pengurus. Pengurus begitu saja menghukum saya.”

Ramang bahkan berani bersumpah bahwa dia tidak menerima sogok, melainkan hanya menerima hadiah dari orang yang barangkali menang judi. Dengan tandas ia juga berkata, “Hukuman itu ganjil.”

Skandal Senayan 

Link Alternatif SBOBET

Skandal Senayan menjadi salah satu noda dari sejarah sepakbola Indonesia (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Sejak pelatih Toni Pogačnik didatangkan Presiden Sukarno dari Yugoslavia pada Januari 1954, timnas Indonesia tampak mempunyai masa depan menjanjikan. Setelah berhasil menembus babak semifinal Asian Games 1954, koran Star Weekly menyebut timnas Indonesia sebagai “Macan Asia”. Selang empat tahun kemudian, ketika Asian Games digelar di Tokyo, timnas Indonesia bahkan berhasil menggondol medali perunggu.

Alhasil, menjelang Asian Games 1962, Presiden Sukarno berpesan kepada Maladi, ketua PSSI saat itu: medali emas harga mati!

Sayangnya, harapan untuk meraih emas ternyata langsung menguap, bahkan sejak jauh hari sebelum Asian Games 1962 digelar. Sebagian besar anggota timnas yang dipersiapkan setengah mati oleh Pogacnik tersebut ternyata terlibat dalam pengaturan skor. Tak tanggung-tanggung, menurut Tempo (“Skandal Senayan di Mata Wowo”;7 April 1984) ada 18 pemain timnas yang terlibat.

Menurut laporan majalah Aneka (5 Januari 1963), setidaknya ada empat pertandingan timnas yang diatur oleh para penjudi, yakni saat timnas bertanding melawan Malmoe, Yugoslavia Selection, Thailand, dan Petrorul Tjeko Combined.

Terbongkarnya kasus itu bermula saat Maulwi Saelan melaporkan kepada Soedirgo, manajer timnas saat itu, bahwa ada yang tidak beres dengan rekan-rekannya pada 1961 lalu. PSSI lantas membentuk tim pemeriksa dan langsung bergerak ke tempat penginapan para pemain timnas. Hasilnya: mereka menemukan uang sebesar 25.000 yang baru saja diterima pemain timnas dari bandar judi. Pada saat bersamaan, Pice Timisela, salah satu pemain timnas yang terlibat dalam kasus tersebut, langsung jatuh pingsan.

Kepada Tempo, Wowo Sunaryo, pemain lain yang menerima suap, lantas menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya mau dikendalikan oleh bandar judi. Kala itu, setiap harinya, para pemain timnas hanya mendapatkan uang saku sebesar 25 rupiah. Bagi yang sudah berkeluarga, uang itu dinilai tidak cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

“Saya terpaksa menerimanya (uang suap) karena kondisi keluarga,” ujar Wowo, yang pernah menjual radio serta baju-baju yang pernah dibeli di luar negeri untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

Pogacnik, yang sempat menangis karena kejadian itu, kemudian mencoret 18 pemain tersebut dan mengganti dengan pemain lain. Pencoretan itu lalu berimbas terhadap penampilan timnas di Asian Games 1962. Timnas menjadi macan ompong. Mereka babak belur dan hanya selesai di putaran grup.

“Kalau tidak terjadi suap-suapan, tim itu dapat mencapai standar internasional,” kata Pogacnik.

Prahara Galatama

Sbobet Link Alternatif

Galatama (Dok. Sbobet Link Alternatif)

Galatama diharapkan mampu menjadi cikal bakal liga profesional di Indonesia. Namun, harapan itu justru berubah menjadi prahara. Sejak dimulai pada 1979 hingga berakhir pada tahun 1994 lalu (dilebur dengan kompetisi Perserikatan menjadi Liga Indonesia), Galatama justru menjadi lahan basah bagi para penjudi.

Menurut Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”; 7 April 1984), saat musim perdana Galatama baru berjalan selama tiga bulan, Perkesa 78, salah satu peserta Galatama, sudah terlibat kasus suap. Kala itu Javeth Sibi, salah satu pemain Perkesa 78, menerima suap dari bandar judi yang bernama Jeffry Suganda Gunawan sebesar 1,5 juta rupiah. Uang itu kemudian dibagi-bagikan kepada empat rekannya. Jareth diskors PSSI selama satu tahun dan empat rekannya mendapat peringatan keras dari PSSI.

Yang menarik, kasus suap ternyata juga menghantui Warna Agung, salah satu klub penggagas Galatama yang berhasil menjadi juara edisi pertama. Endang Tirtana dan Marsey Tamabayong, dua pemain Warna Agung, pernah dijanjikan uang sebesar 2,5 juta rupiah oleh Jeffry Suganda, asal mampu membuat pertandingan antara Warna Agung dan Niac Mitra berakhir dengan skor 3-3. Kelak kasus suap yang marak di Galatama inilah yang membuat Benny Muyono, bos Warna Agung, membubarkan klubnya.

“Musim pertama, miliaran uang saya dicuri penjudi dan penyuap, saya merem saja. Musim kedua saya masih merem. Lama-lama saya tidak rela juga uang saya terus dicuri. Saya bubarkan saja Warna Agung,” kata Benny.

Sejak saat itu, kasus suap dan pengaturan skor terus-terusan menjadi karib Galatama. Pada 1982, Kaslan Rosidi, bos Cahaya Kita, pernah menskors 10 pemainnya yang terlibat dalam kasus suap. Karena jengkel, Endang Witarsa, pelatih Warna Agung, bahkan sampai memberikan ide nyentrik perkara penjudi yang berada di balik pengaturan skor.

“Kalau ketangkap, jangan dipenjara, tapi bawa pakai helikopter dan buang di tengah laut. Beri pelampung dan biskuit setiap akan menepi, tembak sisi-sisinya supaya kembali ke tengah,” kata Endang Witarsa, dilansir dari Juara.

Perkara kasus suap yang menjadi awal dari pengaturan skor tersebut, PSSI sebetulnya tak bisa tinggal diam. Pada Maret 1984 silam, mereka membentuk Tim Antisuap yang dipimpin langsung Acub Zainal, penggagas Galatama. Namun tugas mereka sangat terbatas dan mereka tidak mampu bekerja secara maksimal.

Hasilnya: para bandar judi tetap berjaya; banyak klub Galatama yang jatuh miskin dan bubar di tengah jalan; dan sepakbola Indonesia pun tak pernah ke mana-mana, sampai sekarang.

Continue Reading

Bolapedia

Cara Memberantas dan Mencegah Match-Fixing

Published

on

Link Alternatif SBOBET 2019

Di seluruh dunia, sepakbola dimainkan dengan peraturan yang sama. Maka ketika ada yang mencoba mengatur pertandingan (match-fixing), itu adalah tindakan korupsi. Tindakan korupsi termasuk penipuan dan bisa dihukum pidana.

Declan Hill, seorang akademisi dan jurnalis yang mengkhususkan dirinya kepada kasus-kasus match-fixing, berpendapat jika olahraga di Asia (bukan hanya sepakbola) adalah sebuah opera sabun komikal yang terkenal karena lawakan dan pengaturannya, bukan karena prestasi atlet-atletnya.

Semua hal tentang match-fixing berakar dari Asia. Dalam bukunya yang berjudul The Insider’s Guide to Match-Fixing in Football, Declan mengatakan jika ada sekitar dua lusin bandar judi yang merupakan kepala sindikat perjudian nasional di seluruh Asia.

“Masing-masing sindikat ini mengendalikan satu negara atau bagian substansial dari bisnis suatu negara. Salah satu rekan mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka tidak suka istilah bandar judi (bookies); mereka lebih suka super-agents dan orang yang bekerja untuk mereka adalah agent. Ini karena taruhan masih ilegal di sebagian besar negara-negara Asia, sehingga istilah bandar terlalu banyak menarik perhatian yang tidak diinginkan,” tulis Declan.

Menurutnya, para bookies berbasis di Hanoi, Bangkok, Johor Bahru, Taiwan, Jakarta, dan Manila. Kepemilikan, struktur, dan peran penting dari kepercayaan pada tingkat jaringan perjudian ilegal ini mirip dengan perdagangan heroin Asia dan bergantung pada koneksi komunitas antar etnis Tionghoa. “Di dunia judi, semua super-agent dalam struktur nasional adalah etnis Tionghoa,” tulis Declan.

Mengungkap Tidak Sama dengan Memberantas, Apalagi Mencegah

Link Alternatif SBOBET

Pada dasarnya, match-fixing itu sangat sulit dan sangat mahal untuk dapat terjadi. Oleh karena itu, ada banyak cara untuk memberantas dan mencegahnya (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Satu hal yang perlu kita tahu, match-fixing tidak pernah menjadi hal yang sederhana. Banyak orang yang tidak menyukai match-fixing, bahkan para koruptor juga tak menyukainya.

Ini bukan persoalan moral atau agama, tapi soal uang. Jika para koruptor bisa menang dengan jujur, mereka pasti memilih itu. Jika pertandingan dimenangi secara jujur, koruptor tak perlu menghabiskan uang dan sumber daya (runner, agen, dsb) tambahan. Sementara jika pertandingan menghasilkan kekalahan yang jujur, para koruptor juga tak kehilangan sepeserpun uang mereka.

Beda cerita jika pertandingan yang sudah mereka atur malah gagal (tidak sesuai dengan kemauan mereka padahal mereka sudah membayar), maka para koruptor akan kehilangan hasil pertandingan sekaligus uang dan sumber daya yang mereka gunakan untuk mengatur pertandingan.

Pada dasarnya, match-fixing itu sangat sulit dan sangat mahal untuk dapat terjadi. Oleh karena itu, ada banyak cara untuk memberantas dan mencegahnya.

Mengungkap, memberantas, dengan mencegah tentu tiga hal berbeda. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya juga, pengungkapan match-fixing umumnya dilakukan oleh polisi dan media. Acara seperti Mata Najwa (bahkan sampai dua jilid, sejauh ini) mampu mengungkapkan beberapa whistleblower yang mau mengaku “bermain”.

Namun acara seperti Mata Najwa (media) bukanlah penegak hukum yang bisa memproses kasus match-fixing. Maka penegak hukum selanjutnya yang memegang peranan penting, yaitu kepolisian.

Keseriusan media dalam mengungkap mafia sepakbola akhirnya dijawab dengan dibentuknya satgas pengaturan skor yang dipimpin langsung Kapolri, Tito Karnavian. Pertanyaan selanjutnya setelah ada berbagai pengungkapan: bagaimana cara memberantas dan kemudian mencegahnya?

Berikut adalah cara pemberantasan dan pencegahan yang mayoritas kami ambil dari bab How We Can Win pada buku Declan Hill, The Insider’s Guide to Match-Fixing in Football.

Fasilitasi dan Lindungi Whistleblower

Sbobet Link Alternatif

eran whistleblower (pengaku) itu sangat penting. Di luar negeri pun pengungkapan kasus-kasus seperti ini selalu melibatkan whistleblower(Dok. Sbobet Link Alternatif)

Untuk kasus-kasus match-fixing, peran whistleblower (pengaku) itu sangat penting. Di luar negeri pun pengungkapan kasus-kasus seperti ini selalu melibatkan whistleblower. Meski efektif, jarang ada whistleblower yang ingin mengaku di media seperti Bambang Suryo, Lasmi Indaryani, dan Budhi Sarwono.

Mereka yang mengaku, bagaimana juga, umumnya adalah pelaku yang bersalah. Kasus yang sudah-sudah, para whistleblower malah dihukum, bukan diberi penghargaan. Orang pertama yang membuka kasus korupsi (secara umum) memang jarang hidup nyaman.

Maka dari itu agar kasus-kasus seperti ini bisa terungkap, diberantas, dan dicegah, para whistleblower harus dilindungi.

Masalahnya memang mencari whistleblower itu sangat sulit. Tidak ada yang suka menceritakan kejelekan mereka sendiri bersama para rekannya. Oleh karena itu salah satu cara mendukung mereka untuk melapor adalah dengan pembentukan hotline atau call center yang independen.

Para pengaku bisa membuat laporan dengan menelepon hotline tersebutKerahasiaan mereka juga terjaga dengan cara ini.

Sistem Kompetisi Agar Minim Disusupi Mafia
Login Link Alternatif SBOBET

Cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match-fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik (Dok. Login Link Alternatif SBOBET)

Cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match-fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik. Pada banyak kasus, pengaturan pertandingan umumnya terjadi pada pertandingan yang setidaknya salah satu pihak menganggapnya sebagai pertandingan tidak penting.

Pada NBA (liga bola basket Amerika Serikat), banyak tim yang berusaha kalah sebanyak-banyaknya menjelang akhir musim untuk menduduki peringkat bawah. Mereka melakukannya karena peringkat yang lebih bawah akan mendapatkan jatah draft pick yang lebih tinggi di musim berikutnya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada kasus “sepakbola gajah” antara PSS Sleman dan PSIS Semarang pada 2014, di mana terdapat lima gol bunuh diri dalam enam menit antara kedua kesebelasan karena keduanya sama-sama ingin menghindari calon lawan kuat di fase gugur jika mereka menang.

Pada sistem kompetisi seperti liga dengan 18 kesebelasan, misalnya tidak ada bedanya finis antara posisi ke-10 dengan ke-11. Pertandingan penting menjelang akhir musim adalah pertandingan yang melibatkan gelar juara atau degradasi. Oleh karena itu kebanyakan pertandingan papan tengah bisa “dijual” kepada yang lebih membutuhkan.

Hal ini bisa dihindari dengan pemberian insentif yang lebih besar untuk setiap peringkat. Ada bedanya finis di peringkat ke-10 dengan ke-11, misalnya Rp100 juta. Jika itu dilakukan, kemungkinan terjadinya match-fixing memang akan tetap ada, namun harganya akan lebih mahal.

Selain insentif yang berbeda di setiap posisi klasemen liga, pemberian bonus penghargaan juga bisa menjadi motivasi sekaligus meminimalisasi match-fixing: seperti kesebelasan yang paling sedikit kebobolan, kesebelasan paling sedikit kartu kuning, atau di Indonesia bisa diterapkan misalnya gelar seperti “kesebelasan terbaik Indonesia Tengah”, dll.

Solusi lain yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan sistem setengah kompetisi seperti di Premiership Skotlandia atau Ekstraklasa Polandia.

Mereka menerapkan liga dengan jumlah peserta sedikit. Setengah kompetisi pertama memainkan pertandingan kandang-tandang dengan komplet, namun setengah kompetisi sisanya dilanjutkan dengan fase play-off yang menyisakan dua bagian: setengah kesebelasan teratas akan memainkan babak play-off championship, sementara setengah kesebelasan terbawah akan memainkan babak play-off degradasi.

Dengan skema liga seperti ini, setiap pertandingan akan penting untuk setiap kesebelasan sehingga akan menimalisasi potensi korupsi.

Pada intinya semakin sedikit pertandingan, maka akan semakin baik; sekaligus akan semakin kecil bisa “dimainkan”. Semakin banyak pertandingan, berarti akan semakin banyak juga pertandingan yang tidak penting. Oleh karena itu liga yang memiliki peserta lebih banyak, misalnya 20 kesebelasan, lebih rentan disusupi match-fixing daripada liga yang hanya memiliki 10 kesebelasan.

Membatasi Pergerakan Mafia
Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir

Selain menurunkan rasa kepercayaan di antara para koruptor, pencegahan juga bisa dilakukan dengan memonitor pasar taruhan (Dok. Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir)

Untuk membatasi pergerakan mafia (koruptor), biasanya pihak terkait akan mencoba meningkatkan rasa kepercayaan di antara para pejabat, administrator kesebelasan, pemain, dan wasit. Namun sejujurnya itu sulit dilakukan karena semua orang memiliki kepentingan masing-masing.

Maka dari itu yang harus dilakukan dalam memberantas dan mencegah match-fixing adalah dengan menurunkan rasa kepercayaan (alias meningkatkan kecurigaan) di antara para koruptor. Itu bisa dilakukan dengan kampanye buka-bukaan untuk menjebak para koruptor.

Contohnya begini: Pejabat liga dan pejabat kesebelasan terpilih akan mendekati calon koruptor dan mengusulkan pengaturan pertandingan. Jika koruptor tidak segera melaporkan pendekatan kepada pihak berwajib (misalnya polisi), maka dia akan menghadapi hukuman.

Seorang koruptor pada awalnya tidak bisa membedakan antara pendekatan “jujur” untuk match-fixing dan pendekatan “tidak jujur”. Pada akhirnya mungkin koruptor bisa tetap beraksi, tetapi kita dapat mengasumsikan bahwa sinyal-sinyal ini akan membuat biaya match-fixing semakin tinggi.

Selain menurunkan rasa kepercayaan di antara para koruptor, pencegahan juga bisa dilakukan dengan memonitor pasar taruhan; bisa melalui pihak ketiga seperti Genius Sport (yang sudah dilakukan PSSI). Bagaimana juga pertandingan yang berpotensi disusupi biasanya memiliki odds(peluang atau voor-voor-an) yang aneh.

Selanjutnya pembatasan pergerakan koruptor juga bisa dilakukan dengan memutus akses komunikasi. Akses ke hotel kesebelasan, lapangan latihan, sampai stadion harus dibatasi untuk orang-orang yang berkepentingan. Bahkan telepon genggam para pemain, wasit, dan administrator kesebelasan juga dimonitor.

Pada kejuaraan tenis Perancis Terbuka, pihak penyelenggara turnamen sengaja memasang alat yang membuat alat-alat komunikasi menjadi macet (jammed) di dalam stadion untuk menghindari informasi judi bisa keluar dari stadion.

Cara lain yang ternyata biasa dilakukan pihak liga di luar negeri adalah mengganti wasit secara tiba-tiba beberapa saat sebelum pertandingan. Mengganti wasit tidak sama dengan mengumumkan secara tiba-tiba. Jika pihak liga mengumumkan secara tiba-tiba, mereka justru bisa dicurigai menyembunyikan sesuatu yang berpotensi ada “permainan” di sana. Hal ini menjadi penting karena koruptor juga umumnya mendekati wasit.

Pembentukan Badan Anti-Korupsi Olahraga Internasional
Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir

Badan Anti-Korupsi Olahraga ini akan memiliki unit intel yang mengumpulkan informasi tentang potensi koruptor dan pendekatan mereka, sertifikasi “anti-korupsi” (Dok. Link Alternatif Sbobet Tanpa Blokir)

Sepanjang bukunya, Declan menyimpulkan jika korupsi terjadi pada segala lapisan pengurus sepakbola, dari mulai pemain, pejabat federasi, mafia kelas kakap, bahkan polisi. Maka dari itu salah satu cara memberantas korupsi adalah dengan membentuk badan anti-korupsi yang independen.

Declan memberi contoh WADA (Badan Anti-Doping Dunia) yang berhasil mengungkapkan, memberantas, dan mencegah doping di olahraga. Cara itu juga bisa diterapkan pada kasus-kasus match-fixing. Jika dipersempit di Indonesia saja, mungkin penerapannya sama seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Badan Anti-Korupsi Olahraga ini akan memiliki unit intel yang mengumpulkan informasi tentang potensi koruptor dan pendekatan mereka, sertifikasi “anti-korupsi” kepada organisasi-organisasi olahraga yang dianggap bersih.

Ide ini sangat baik di atas kertas. Namun pada kenyataannya nanti, siapa yang akan membiayai mereka? Declan menyediakan jawaban yang sangat sederhana: industri perjudian olahraga yang akan membiayai Badan Anti-Korupsi Olahraga.

Perjudian di Indonesia memang dianggap tabu, tapi tidak dengan di internasional. Perputaran uang di pasar taruhan sangat besar. Sports gambling memiliki sisi komersial dan moral untuk memastikan olahraga terlindungi dari mafia.

Di sini, Declan menawarkan solusi berupa integrity charge yang hanya tidak lebih dari 1% dari setiap taruhan yang dilakukan. Jika persentase itu dirasa sangat kecil, ternyata itu saja bisa menghasilkan puluhan miliar dolar AS setiap tahunnya.

Soal perjudian ini, sepakbola Inggris juga mengalami perbaikan soal kasus-kasus match-fixingpada 1950 dan 1960-an setelah mereka menghapus batas gaji maksimal dan pelegalan gambling.

Ujung-Ujungnya Duit

Link Alternatif SBOBET 2019

Masalah uang ini juga berlaku sebaliknya, yaitu untuk menghukum pihak-pihak yang terlibat (Dok. Link Alternatif SBOBET 2019)

Pemerintah Singapura (yang merupakan salah satu sarang mafia judi bola) memiliki cara efektif menghentikan korupsi dengan membayar pejabat-pejabat mereka dengan gaji tinggi dan tepat waktu. Penunggakan gaji adalah motivasi terbesar bagi pemain, wasit, administrator kesebelasan, dan pejabat untuk terlibat korupsi.

Apapun yang terjadi, “profesional” mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan kata amatir). Selama itu tak terjadi, “profesional” adalah jargon semata.

Pada liga yang menjunjung profesionalisme paripurna, pihak liga atau federasi biasa menyuruh kesebelasan menyetor seluruh gaji pemain dan pengurus kesebelasan mereka di awal musim dan tengah musim pada akun bank independen yang secara otomatis akan menyetor uang tersebut setiap jangka waktu tertentu (per pekan, per bulan, atau per musim).

Masalah uang ini juga berlaku sebaliknya, yaitu untuk menghukum pihak-pihak yang terlibat. Denda yang dijatuhkan harus tinggi dan tak pandang bulu. Seringnya kasus match-fixing akan membuat jera jika pemain, wasit, administrator kesebelasan, atau pejabat yang memiliki profil tinggi lah yang dihukum; artinya hukuman tak pandang bulu.

Hukuman lain yang membuat jera antara lain adalah dilarang terlibat di olahraga seumur hidup. Kebijakan yang harus diambil juga sebaiknya “one-strike-you-are-out”, alias sekalinya bersalah langsung dihukum, tanpa peringatan.

Kemudian khusus bagi Indonesia, rangkap jabatan antara pejabat kesebelasan dan pejabat federasi juga sangat memungkinkan terjadinya “permainan”, sehingga rangkap jabatan semacam ini harus dihilangkan, apalagi PSSI juga punya slogan “profesional dan bermartabat”. Memang mereka tidak/belum terbukti terlibat, tapi stigma masyarakat sudah terlanjur jelek kepada mereka. Semua keputusan menjadi penuh kecurigaan.

Olahraga dan sepakbola mengajarkan banyak hal positif kepada generasi-generasi manusia. Oleh karena itu kita semua harus melindungi olahraga dan sepakbola dari praktik-praktik kotor para koruptor.

Continue Reading

Bolapedia

Bagaimana Cara Mafia Menjalankan Match-Fixing?

Published

on

Link SBOBET

Sangat mudah menuduh pertandingan sepakbola atau olahraga lainnya disusupi praktik match-fixing (pengaturan pertandingan). Namun beberapa orang bahkan tidak benar-benar tahu bagaimana sebuah pertandingan atau kompetisi bisa diatur hasilnya. Itu tidak sesederhana menyogok pemain atau wasit untuk melakukan suatu hal.

Pada dasarnya match-fixing bukan perilaku curang. Match-fixing terjadi ketika ada pihak yang setuju untuk kalah, imbang, atau memenangkan pihak lawan dengan tidak berusaha maksimal. Sedangkan curang adalah menghalalkan segala cara untuk menang, misalnya doping.

Ada dua tipe pengaturan pertandingan di sepakbola, yaitu arranged match-fixing dan gambling match-fixing.

Arranged match-fixing terjadi ketika koruptor memanipulasi pertandingan sepakbola untuk memastikan salah satu kesebelasan kalah atau imbang. Sementara gambling match-fixing terjadi ketika koruptor memanipulasi dengan maksud mendapatkan keuntungan maksimal di pasar taruhan.

Jika mau dipukul rata, arranged match-fixing hanya menguntungkan salah satu kesebelasan, sementara gambling match-fixing membuat sebuah kesebelasan disabotase oleh pihak-pihak tertentu demi keuntungan pihak yang bersangkutan.

Jadi pada gambling match-fixing, seorang koruptor tidak peduli jika Kesebelasan A atau Kesebelasan B kalah atau menang. Mereka hanya memedulikan keuntungan pribadi mereka. Akan lebih baik bahkan jika mereka bisa mengontrol banyak pihak (dalam hal ini adalah Kesebelasan A dan B).

Menurut Declan Hill (jurnalis dan akademisi yang mengkhususkan diri kepada kasus match-fixing), 88,2% kasus arranged match-fixing diinisiasi oleh administrator kesebelasan. Kemudian pada gambling match-fixing, 86,4% “permainan” diinisiasi oleh agen eksternal seperti bandar atau organisasi kriminal.

Operasi pengaturan pertandingan di sepakbola juga dibagi dua, yaitu “permainan” kecil-kecilan tapi sering dan dalam jangka waktu panjang; atau “permainan” sangat besar tapi dalam waktu singkat. Operasi jenis kedua biasanya lebih mencurigakan. Sebagai contoh: Kesebelasan kuda hitam bisa menang pada sebuah final.

Pengaruh Pasar Taruhan

Link Alternatif SBOBET

Match Fixing terkadang tidak tentu mengacu pada gambling (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Sebenarnya match-fixing tidak selalu didasari perjudian (gambling). Namun perjudian memang banyak memengaruhi hasil pertandingan-pertandingan olahraga karena banyak orang yang bertaruh, dari mulai sepakbola, balapan Formula 1, kriket, bahkan sampai tingkat yang paling rendah dan tak menarik perhatian publik seperti misalnya pertandingan perempuan U16 di divisi ketujuh.

Pada pasar taruhan atau judi, tujuan utama pengaturan (fixing) adalah untuk memperoleh keuntungan maksimal. Maka dari itu ada dua pengaturan yang terjadi, yaitu pengaturan pertandingan dan pengaturan pasar taruhan.

Setiap laga punya peluang (odd) masing-masing. Hal ini yang membuat taruhan memiliki nilai. Koruptor biasanya memiliki masalah, yaitu jika mereka berhasil mendapatkan “pemain” untuk kalah pada pertandingan, mereka akan bertaruh untuk kesebelasan lawannya untuk menang. Dengan begitu mereka jadi mendapatkan keuntungan.

Semakin banyak uang yang mereka pertaruhkan melawan para “pemain” mereka, maka akan semakin besar uang yang akan mereka dapatkan. Ini disebut “mengatur pasar taruhan”.

Jika petaruh (koruptor) memasang uang yang terlalu banyak, bandar akan curiga sehingga odd bisa berubah. Sedangkan jika mereka memasang terlalu kecil, itu akan membuat pengaturan pertandingan jadi tak layak, sehingga uang suap mereka kepada “pemain” menjadi sia-sia di pasar taruhan.

Bagi koruptor yang tak memiliki cukup uang, mereka akan melibatkan investor, yang membuat koruptor berperan sebagai broker: mereka mengatur pertandingan kepada “pemain”, lalu pergi ke investor yang bisa menyediakan mereka banyak uang.

Maka dari itu petaruh (koruptor) selalu berusaha tak ketahuan, karena poin utama dari match-fixing adalah untuk menipu bandar demi menghasilkan keuntungan untuk koruptor. Di sini bandar justru bisa menjadi “korban”, bukan pelaku.

Hal ini juga yang menjadi alasan match-fixing lebih sulit terjadi di pertandingan penting (seperti Piala Dunia) karena uang yang mengalir akan sangat besar dan juga lebih mencurigakan. Pengaturan pertandingan banyaknya terjadi di liga kecil karena “pemain” bisa dibayar lebih murah (apalagi jika “pemain” sudah lama tak digaji) dan tidak lebih mencurigakan (karena tak banyak yang peduli) meski keuntungannya kecil.

Pelaku Langsung

Senior Master Agen

tingkat kesuksesan pengaturan pertandingan rata-rata menjadi besar jika seseorang menyogok administrator kesebelasan (kesuksesan 90,5%) daripada pemain (83,1%) atau wasit (77,8%) (Dok. Senior Master Agen)

Secara umum “pemain” match-fixing dilakukan oleh wasit, pemain, dan administrator kesebelasan (manajer, presiden kesebelasan, pelatih, dll). Masih menurut Hill, tingkat kesuksesan pengaturan pertandingan rata-rata menjadi besar jika seseorang menyogok administrator kesebelasan (kesuksesan 90,5%) daripada pemain (83,1%) atau wasit (77,8%).

Kenapa administrator kesebelasan bisa lebih besar kemungkinan suksesnya? Padahal wasit dan pemain adalah mereka yang berada langsung di lapangan, yang bisa memengaruhi hasil/skor secara langsung.

Pada dasarnya semakin banyak orang yang terlibat dalam “permainan”, akan semakin tinggi kemungkinan suksesnya. Jika seseorang bisa memengaruhi administrator kesebelasan, berarti mereka bisa memengaruhi satu kesebelasan secara keseluruhan alih-alih perorangan seperti pemain atau wasit.

Pada gambar jalur di atas, baik pemain, wasit, maupun administrator kesebelasan adalah “pemain” (yang diajak “bermain”, yang dibayar untuk kalah). Menurut jalur normal, ada yang menyogok atau menyuruh mereka untuk mengatur pertandingan, yaitu “koruptor”.

Untuk membangun jalur seperti di atas, ada azas kepercayaan yang tidak bisa sembarangan terbangun. Maka dari itu jika koruptor meminta pemain atau wasit untuk terlibat, itu biasanya hanya bersifat sementara: done and forgotten.

Namun koruptor yang membangun kepercayaan kepada administrator kesebelasan bisa lebih langgeng, karena mereka akan masuk ke dalam sistem yang tidak dipengaruhi oleh (misalnya) perpindahan pemain atau pergantian wasit.

Tanpa adanya azas kepercayaan ini, koruptor tidak akan memiliki kekuatan dan kepastian.

Pelaku Tidak Langsung

SBOBET Link Alternatif

Dalam praktik global, peran runner ini ideal diambil oleh mantan pemain. Mantan pemain adalah mereka yang sangat tahu situasi dan kondisi lapangan (Dok. SBOBET Link Alternatif)

Masalahnya koruptor tidak bisa seenaknya terlibat secara langsung. Mereka butuh akses untuk bisa mengajak wasit, pemain, atau administrator “bermain”. Mereka bisa saja melakukan pendekatan langsung. Masalahnya kebanyakan dari mereka adalah pihak luar.

Jika mereka memutuskan pendekatan secara langsung, mereka harus cerdas dalam pendekatannya, misalnya berusaha satu hotel atau satu koridor dengan calon “pemain”. Pada praktik langsung, mereka bisa memakai pelacur. Sementara secara tidak langsung, mereka bisa berpura-pura sebagai jurnalis yang ingin melakukan interviu.

Untuk pendekatan langsung ini, risikonya lebih besar bagi koruptor. Maka dari itu mereka biasa memakai jasa perantara yang biasa disebut runner atau agen. Hal ini bisa membuat koruptor terlindungi dari deteksi, karena proses transaksinya mengandung banyak layer.

Runner atau agen ini juga bertindak sebagai penjamin atau pemberi garansi (guarantor), tapi ada juga yang tidak bisa bertindak sebagai penjamin. Bisa menjadi penjamin atau tidak, runner tetap memiliki kekuatan utama pada akses. Mereka tahu siapa “pemain” yang bisa didekati dan siapa yang sebaiknya dihindari (berpotensi mengadu kepada pihak berwajib).

Dalam praktik global, peran runner ini ideal diambil oleh mantan pemain. Mantan pemain adalah mereka yang sangat tahu situasi dan kondisi lapangan. Runner jenis ini bisa menghadirkan jaringan “permainan” paling efisien dan menjanjikan.

Meski begitu runner juga kadang bukan orang yang tahu persis kondisi lapangan, sehingga ia membutuhkan “pegangan” lainnya, yang bisa membuat jalur match-fixing lebih berlapis-lapis lagi. Karena runner adalah orang yang tahu siapa yang paling bisa “dipegang”, pihak yang bisa “dipegang” itu biasa disebut project manager.

Project manager adalah pihak yang memiliki pengaruh langsung kepada para “pemain”. Project manager biasa diperankan oleh pemain berpengaruh, pelatih, pemilik kesebelasan, pejabat kesebelasan, atau pejabat federasi.

Dengan jalur-jalur seperti ini, meski panjang dan berlapis-lapis, namun bisa membuat jaringan yang kuat dan sulit terdeteksi. Mereka yang biasanya mudah ditangkap juga biasanya adalah dari layer runner ke bawah (sampai para “pemain”), sementara koruptor dan orang-orang atas lebih sulit tertangkap.

Pemain Pasif Kelas Kakap

Bola Pelangi

Ante Sapina mengungkap bahwa para koruptor sepertinya bisa mengatur pertandingan dengan mudah karena dua alasan (Dok. Bola Pelangi)

Dalam setiap aksinya, koruptor tentu butuh pelindung. Jika sosok pelindung itu tak bisa mereka dapatkan dari guarantor (runner atau agen), mereka akan meminta ke tingkat yang lebih tinggi, seringnya underground.

Pada laporan Federasi Sepakbola Zimbabwe 2011, grup pengatur pertandingan dari Asia bisa mengatur banyak pertandingan tim nasional mereka selama tiga tahun karena mendapat perlindungan dari pejabat senior federasi, pemain, dan bahkan wartawan yang mengaver berita-berita di pertandingan tersebut.

Grup match-fixer Asia lainnya juga bisa mengatur pertandingan-pertandingan Eropa (terutama Italia dan Eropa Timur) karena mendapat perlindungan dari kriminal Balkan yang punya akses kepada pemain, wasit, dan pejabat federasi.

Kompetisi sepakbola yang bobrok memiliki persentase pertandingan yang sudah diatur lebih banyak daripada yang tidak diatur. Karena jaringan ini sudah terjadi secara “alamiah”, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya pun sudah sama-sama tahu dan saling membutuhkan.

“Kadang kesebelasan berteman satu sama lain. Mereka mau menolong sesama. Para bos lalu bertaruh kepada hasil pertandingan. Ini banyak terjadi di divisi-divisi bawah,” kata Milan Sapina, seorang koruptor, yang mengaku kepada Declan Hill pada 2007.

Kata Sapina, para koruptor sepertinya bisa mengatur pertandingan dengan mudah karena dua alasan. Pertama karena mereka memiliki aliansi dengan para koruptor lainnya, terutama di Asia. Kedua karena mereka punya koneksi kepada pemilik sepakbola lokal yang sudah membuat match-fixing sebagai strategi bisnis mereka untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Dari sini kita sama-sama tahu jika “pemain” yang paling mudah adalah mereka yang juga “bermain”. Mereka yang juga “bermain” biasanya adalah mereka yang berkuasa dan memiliki banyak uang.

Itu juga yang membuat jalur kasus match-fixing mustahil ditelanjangi. Biasanya orang-orang di atas ini lah yang berperan sebagai “pemain” —meski pasif— tapi kelas kakap. Mereka sulit diungkap dan ditangkap, dan kalaupun terungkap, mereka bisa membalikkan tuduhan; justru pengungkap kasus yang akan dihukum, bukan mereka. Semua karena mereka punya kuasa dan punya uang.

Jadi pertanyaannya: bisakah praktik global ini dibasmi? Tentu saja bisa. Salah satu yang mengawali pemberantasan adalah dengan pendeteksian yang baik. Kepolisian dan media memegang peranan besar di situ.

Bagaimanapun juga match-fixing, meski sudah berskala global, adalah penipuan publik; yang kena tipu itu berjuta-juta orang.

Continue Reading

Trending