Connect with us
Link Alternatif SBOBET

Bolapedia

Menebus Sportivitas dari Pasar Taruhan

Published

on

Dad, what’s match-fixing? I don’t know son, we are hockey players,” Unknown.

Sepakbola adalah sebuah permainan yang telah berlangsung selama ratusan tahun dalam peradaban manusia. Perkembangan olahraga ini telah terjadi begitu masif, menyentuh hampir seluruh kolong daratan di muka bumi, melibatkan miliaran pasang mata pada setiap pekannya. Miliaran bahkan triliunan rupiah berputar di tiap pertandingannya.

Sepakbola telah berkembang menjadi industri yang dimainkan untuk menjadi sumber penghasilan. Dan bukan menjadi rahasia umum apabila industri taruhan juga turut menjamur. Industri taruhan semakin kaya dan manipulatif, demi keuntungan yang tiada terkira. Sepakbola telah menjadi meja judi terbesar dalam sejarah olahraga umat manusia.

Beberapa pekan belakangan, penggemar sepakbola tanah air digemparkan dengan pengakuan mantan “pemain” dalam dunia taruhan. Bambang Suryo yang mengatakan harga ratusan juta sudah lumrah dalam perjudian sepakbola. Bandar akan datang untuk menawarkan uang sebagai imbalan kekalahan yang harus dilakukan oleh kesebelasannya. Terkadang tawaran bahkan bisa berkali-kali lipat.

Link Alternatif SBOBET

sbobet salah satu contoh situs taruhan online (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Gepokan uang bukan menjadi masalah bagi mereka tapi kita. Perang melawan perjudian dan pertaruhan sejatinya tidak saja dialami oleh sepakbola di dalam negeri. Liga-liga top Eropa bahkan sudah bergelut lama dengan praktik “setan” ini.

Liga-liga besar seperti Premier League di Inggris atau La Liga di Spanyol, telah berperang dengan menegakkan beberapa peraturan terkait perjudian. Salah satunya pelarangan pemain, pelatih, hingga ofisial dari suatu kesebelasan untuk ikut bertaruh pada pasar taruhan apapun, bahkan selain sepakbola.

Namun menemukan siapa pemain yang ikut berjudi tentu tidak sesederhana itu. Para aktor utama malah biasanya berasal dari “luar” tim. Mereka yang biasa kita sebut dengan mafia, bandar, atau broker, adalah otak utamanya.

Tujuh tahun lalu 36 pemain dari La Liga dituduh terlibat dalam pengaturan skor. Beberapa pemain top seperti Vicente Iborra (Leicester City), Cristhian Stuani (Girona), dan Felipe Caicedo (Lazio), disebut menjadi pesakitannya. Kasus ini berlarut-larut hingga beberapa tahun terakhir dan sempat menyeret nama Presiden La Liga, Javier Tebas. Hingga kini, penyelidikan kasus pengaturan skor tersebut bahkan masih berlangsung.

Di Italia, kesebelasan besar seperti Juventus malah harus malu didegradasi. Putusan pengadilan secara meyakinkan menjatuhkan hukuman kepada Juventus. Si Nyonya Tua telah terbukti melakukan pengaturan skor yang berimbas pada degradasi kesebelasan serta pencabutan gelar juara Serie A Italia musim 2004/05. Skandal ini kita kenal dengan sebutan Calciopoli.

Kita bisa menarik benang merah bahwa sepakbola di mana pun ia berada, entah liga raksasa Eropa atau negara yang biasa saja di sepakbola seperti Indonesia, selalu menarik bagi para pegiat pasar taruhan. Apalagi untuk suatu negara dengan penggila sepakbola yang amat besar. Bandar-bandar judi daring konon sudah mendarah daging dalam melakukan infiltrasi di dalamnya.

Modus Sogokan

Senior Master Agen

Banyak Modus Operandi yang dilakukan oleh Bandar Judi untuk mengelabui sebuah Tim (Dok. Senior Master Agen)

Bayangkan jika Anda adalah seorang pemilik sebuah kesebelasan dan klub Anda tengah mengalami sebuah krisis, sebutlah krisis keuangan: Gaji pemain belum terbayarkan hingga tunggakan-tunggakan yang belum lunas. Pada saat semua gelap dan asa menghilang, lalu datanglah seseorang yang mengaku sebagai “teman”. Ia mengagumi tim Anda dan bersedia memberikan sokongan dana secara “cuma-cuma”. Pastinya Anda akan berpikir ini sesuatu yang mudah. Lalu Anda menerima dana tersebut dan bantuan- bantuan lainnya hingga pada poin tertentu, ketika Si Bandar yang mengaku sebagai “sahabat” meminta Anda memberinya skor yang mereka inginkan. Anda akan merasa tidak enak untuk tidak membantunya. Dan selamat, Anda sudah menjadi bagian dari pengaturan skor. Anda telah menjadi budak pengaturan skor.

Modus seperti itu tidak selalu terjadi. BBC Indonesia dalam salah satu beritanya mengenai modus operandi yang biasa dilakukan para bandar judi untuk mengatur skor suatu pertandingan, bahkan dapat terjadi dengan amat instan. Mereka datang, memberi tawaran, dan selanjutnya terjadilah pengaturan skor.

Dua mantan pelatih Persegres Gresik United dan Persipur Purwodadi angkat bicara. Mereka mengaku mendapat tawaran hingga ratusan juta untuk mengatur hasil akhir sebuah pertandingan. Laporan sudah dibuat dan diserahkan tetapi konon tidak ada respons berarti dari PSSI pada saat itu.

Federasi sepakbola Indonesia, PSSI, memang telah menerima laporan terbaru terkait pengaturan skor. Beberapa forum pun mereka hadiri untuk memastikan posisi PSSI sebagai pelindung sepakbola di tanah air. Ya, pelindung sepakbola tapi bukan selalu sebagai pelindung integritas.

Integritas dan sportivitas ibarat dua mata uang berbeda yang berada pada satu keping. Sportivitas hanya akan tercapai juga ada integritas di dalamnya. Sejauh ini, PSSI mengaku telah menjalan tindakan preventif untuk pengaturan skor. Ya, sebatas tindakan preventif.

Setidaknya ada tiga poin utama yang PSSI telah ungkapkan yakni, bekerja sama dengan Genius Sport untuk memantau data-data pasar taruhan. Sehingga apabila ada taruhan yang mencurigakan PSSI dapat segera menelusurinya. Kedua, menelusuri lebih lanjut adanya laporan atau tidak mengenai kecurigaan tersebut. Dan ketiga, memberikan hukuman sesuai Komisi Disiplin PSSI. Misalnya, dilarang terlibat dalam urusan sepakbola seumur hidup.

Hukuman Setimpal

Sbobet Link Alternatif

Hukuman bagi para pengatur skor di Indonesia terbilang ringan (Dok. Sbobet Link Alternatif)

Sayangnya, setiap keputusan hukuman yang diberikan PSSI tampaknya tidak akan memiliki efek jera yang diinginkan. Terbukti dengan banyaknya suara kekecewaan pengamat sepakbola tentang “ringannya” hukuman yang diberikan. Terlebih dengan besarnya gelontoran uang yang dihamburkan untuk menyogok pemain dan kesebelasan.

Hukuman 100-200 juta bahkan mungkin terasa murah. Mungkin PSSI bisa menengok bagaimana beratnya hukuman-hukuman bagi para pengatur skor di daratan Eropa.

Salah duanya ialah kasus wasit Jerman, Robert Hoyzer, yang dihukum penjara selama lebih dari dua tahun pada 2005 karena terbukti terlibat dalam suap untuk pengaturan skor dari pemilik bar Kroasia yang kecanduan judi, Ante Sapina. Hoyzer secara terpisah mengeluarkan 23 kartu merah pada pertandingan-pertandingan tertentu. Belum lagi banyak penalti kontroversial yang ia berikan selama menjadi pengadil lapangan untuk pertandingan Liga Divisi 2 dan 3 Jerman.

Contoh lain yang lebih besar datang dari klub elit Perancis Olympique de Marseille, yang pada 1993 memiliki kesempatan untuk merengkuh trofi Liga Champions sekaligus Liga Perancis.

Sebelum bertemu AC Milan di final Liga Champions, Marseille harus terlebih dahulu melawan Valenciennes untuk memastikan gelar juara menjadi milik mereka. Presiden kesebelasan saat itu, Bernard Tapie, menyodorkan suap kepada tiga pemain Valenciennes. Namun salah seorang dari mereka menolak dan melaporkannya kepada pihak berwenang. Sang presiden kesebelasan lalu dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun. Gelar juara Marseille dicabut dan mereka didegradasi ke Divisi 2, serta pencabutan hak mempertahankan Liga Champions untuk musim berikutnya.

Hingga saat ini belum ada putusan PSSI yang keluar dari standar hukuman terberat dalam kode disiplin PSSI tahun 2018 tentang manipulasi hasil pertandingan yaitu larangan berkecimpung dalam dunia sepakbola selama seumur hidup dan sanksi denda maksimal 500 juta.

Sekarang, sudah seyogianya PSSI mau lebih berani dan galak jika memang PSSI benar menjadi bagian dari perang terhadap mafia bola. Seperti yang Direktur Utama Persija, Gede Widiade, sempat kemukakan, bahwa PSSI harus berani secara konsisten memberikan hukuman berat jika perlu maksimal untuk meningkatkan efek jera.

Regulasi yang sudah ada tentunya bisa mengakomodasi hal tersebut. Peraturan perundang- undangan No. 11 Tahun 1980 juga telah ajek dan bisa digunakan untuk menjerat para pelaku pengaturan skor dengan hukuman penjara. Hukuman pantas dan lumrah yang sudah banyak diterapkan oleh negara- negara lain di Asia maupun Eropa. Itu pun jika PSSI sekali lagi benar serius menjadi bagian dari perang terhadap mafia bola.

Ombak boleh surut dan kasus ini mungkin cepat terlupakan kembali ke laut. Namun atas nama sepakbola, atas nama cinta Tim Nasional Indonesia, perang terhadap mafia bola harus terus bergelora. Kita bisa memilih diam dan tidak peduli jika hanya ingin terluka dan murka melihat kemajuan kompetisi kita hanya jalan di tempat dan mungkin mundur. Karena modal utama membangun kompetisi yang sehat dan berkarakter bukanlah melulu tentang infrastruktur dan teknis penyelenggaraan, melainkan jiwa yang berintegritas dan semangat sportivitas.

Diambil dari PanditFootball

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bolapedia

Pengaturan Skor, Bandar Judi, dan Lagu Lama Sepakbola Indonesia

Published

on

Hantu” sepakbola Indonesia bukan cuma kegagalan-kegagalan, tapi juga pengaturan skor. Pada acara Mata Najwa bertajuk “PSSI Bisa apa?” pada 28 November 2018 lalu, Januar Herwanto, manajer Madura FC, salah satu kontestan Liga 2, mengaku pernah ditawari melakukan pengaturan skor. Tak main-main, menurut Januar, orang yang menawarinya itu adalah anggota Komite Khusus PSSI dan menyebut nama.

Kala itu, pada babak penyisihan Liga 2, Madura FC diminta mengalah saat bermain melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun, Januar menolak ajakan tersebut. Dalam pertandingan yang digelar pada tanggal 2 Mei 2018 tersebut, Madura FC pun akhirnya menang dengan skor 1-2.

“Jadi oknum Exco (PSSI) itu awalnya minta ketemu saya sebelum pertandingan saat laga babak penyisihan, kami away ke Sleman. Komunikasi itu mulai tanggal 1 dan 2 Mei lalu,” kata Januar, dilansir dari CNN Indonesia.

Madura FC tidak hanya satu dua kali mendapatkan tawaran seperti itu. Mereka beberapa kali diiming-imingi segepok uang jika menyetujui permintaan pengaturan skor. Namun, baru saat menghadapi PSS Sleman itulah Madura FC mendapatkan tawaran yang melibatkan anggota PSSI. Kekecewaan Januar pun menjadi-jadi, sehingga ia berani bicara blak-blakan di depan publik.

“Selama ini tawaran ada dari teman-teman, kami tolak dan biarkan. Tapi ini petinggi PSSI yang bermain dengan makelar. Menjijikkan sekali,” tandas Januar kepada BBC Indonesia.

Yang menarik, Bambang Suryo, mantan pelaku pengaturan skor yang juga hadir dalam acara Mata Najwa, lantas membeberkan alasan mengapa sepakbola Indonesia rentan terhadap pengaturan skor. Menurutnya, industri sepakbola Indonesia yang tidak sehat secara finansial menjadi sasaran empuk para bandar judi. Dan menyoal fulus, bagi siapa pun yang tidak “sehat”, perjudian jelas bisa menjadi jalan pintas.

Setidaknya, Ramang, Skandal Senayan, dan kompetisi Galatama pernah menjadi bukti ucapan Bambang itu.

Noda dalam Karier Gemilang Ramang

Senior Master Agen

ramang pemain sepakbola indonesia (Dok. Senior Master Agen)

Ada banyak cerita tentang kehebatan Ramang, mantan penyerang timnas Indonesia pada tahun 1950-an. Bahkan, karena saking hebatnya pemain andalan PSM Makassar itu, cerita-cerita kehebatannya menyerupai mitos.

Diwartakan Tempo (“Ramang Sudah Pergi”;3 Oktober 1987), Ramang adalah seorang penyerang tengah yang memiliki naluri gol maha dahsyat. Pada eranya, ia merupakan satu-satunya pemain Indonesia yang mampu mencetak gol melalui tendangan salto. Saat mengambil tendangan penjuru, tendangannya juga tak jarang langsung menghujam ke gawang lawan. Gol melalui tendangan first time, bukan barang langka.

Kalau kata Maulwi Saelan, kiper timnas Indonesia era 1950-an, “Dia (Ramang) bisa menembak ke gawang dengan posisi apa pun.”

Kehebatan Ramang paling diingat tentu saja saat ia berhasil mengobrak-ngabrik pertahanan Uni Soviet dalam gelaran Olimpiade Melbourne 1956. Ia tak mampu mencetak gol, ia sukses membuat Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet, jungkir balik mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Karenanya, dalam pertandingan ulang, ia lantas mendapatkan perhatian khusus dari Uni Soviet: Igor Netto, kapten Uni Soviet, diberi tugas untuk mematikan Ramang.

Sayangnya, kisah tentang Ramang ternyata tak melulu tertulis dengan tinta emas. Pada 1961 lalu, tepatnya dalam Kejurnas PSSI 1961 (Perserikatan), Ramang pernah mendapatkan sanksi larangan bertanding sumur hidup. Alasannya: Ia terlibat dalam pengaturan skor.

Semua bermula saat PSM Makassar, klub Ramang, bertanding melawan tuan rumah Persebaya Surabaya. Di atas kertas PSM Makassar sebetulnya bisa menang mudah, mengingat Persebaya Surabaya masih merupakan klub bau kencur. Namun, setelah PSM sempat unggul 1-3 pada babak pertama, Persebaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Banyak pihak lantas curiga bahwa pertandingan itu tidak berjalan normal, terlebih saat melihat para penyerang PSM yang terlalu sering membuang-buang peluang.

PSM lalu membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki pertandingan itu. Setelah melakukan penyelidikan selama beberapa minggu, tim investigasi menemukan bukti bahwa pengaturan skor terjadi dalam pertandingan itu. Yang mengagetkan, Ramang dan Noorsalam ternyata menjadi dalang di balik pengaturan skor itu.

Meski begitu, hingga ia meninggal pada 26 September 1987 lalu, Ramang tak pernah mengakui bahwa ia terlibat dalam pengaturan skor. Kepada Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”;7 April 1984), ia mengatakan, “Waktu itu, ada orang yang sentimen dengan saya. Lalu melapor kepada pengurus. Pengurus begitu saja menghukum saya.”

Ramang bahkan berani bersumpah bahwa dia tidak menerima sogok, melainkan hanya menerima hadiah dari orang yang barangkali menang judi. Dengan tandas ia juga berkata, “Hukuman itu ganjil.”

Skandal Senayan 

Link Alternatif SBOBET

Skandal Senayan menjadi salah satu noda dari sejarah sepakbola Indonesia (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Sejak pelatih Toni Pogačnik didatangkan Presiden Sukarno dari Yugoslavia pada Januari 1954, timnas Indonesia tampak mempunyai masa depan menjanjikan. Setelah berhasil menembus babak semifinal Asian Games 1954, koran Star Weekly menyebut timnas Indonesia sebagai “Macan Asia”. Selang empat tahun kemudian, ketika Asian Games digelar di Tokyo, timnas Indonesia bahkan berhasil menggondol medali perunggu.

Alhasil, menjelang Asian Games 1962, Presiden Sukarno berpesan kepada Maladi, ketua PSSI saat itu: medali emas harga mati!

Sayangnya, harapan untuk meraih emas ternyata langsung menguap, bahkan sejak jauh hari sebelum Asian Games 1962 digelar. Sebagian besar anggota timnas yang dipersiapkan setengah mati oleh Pogacnik tersebut ternyata terlibat dalam pengaturan skor. Tak tanggung-tanggung, menurut Tempo (“Skandal Senayan di Mata Wowo”;7 April 1984) ada 18 pemain timnas yang terlibat.

Menurut laporan majalah Aneka (5 Januari 1963), setidaknya ada empat pertandingan timnas yang diatur oleh para penjudi, yakni saat timnas bertanding melawan Malmoe, Yugoslavia Selection, Thailand, dan Petrorul Tjeko Combined.

Terbongkarnya kasus itu bermula saat Maulwi Saelan melaporkan kepada Soedirgo, manajer timnas saat itu, bahwa ada yang tidak beres dengan rekan-rekannya pada 1961 lalu. PSSI lantas membentuk tim pemeriksa dan langsung bergerak ke tempat penginapan para pemain timnas. Hasilnya: mereka menemukan uang sebesar 25.000 yang baru saja diterima pemain timnas dari bandar judi. Pada saat bersamaan, Pice Timisela, salah satu pemain timnas yang terlibat dalam kasus tersebut, langsung jatuh pingsan.

Kepada Tempo, Wowo Sunaryo, pemain lain yang menerima suap, lantas menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya mau dikendalikan oleh bandar judi. Kala itu, setiap harinya, para pemain timnas hanya mendapatkan uang saku sebesar 25 rupiah. Bagi yang sudah berkeluarga, uang itu dinilai tidak cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

“Saya terpaksa menerimanya (uang suap) karena kondisi keluarga,” ujar Wowo, yang pernah menjual radio serta baju-baju yang pernah dibeli di luar negeri untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

Pogacnik, yang sempat menangis karena kejadian itu, kemudian mencoret 18 pemain tersebut dan mengganti dengan pemain lain. Pencoretan itu lalu berimbas terhadap penampilan timnas di Asian Games 1962. Timnas menjadi macan ompong. Mereka babak belur dan hanya selesai di putaran grup.

“Kalau tidak terjadi suap-suapan, tim itu dapat mencapai standar internasional,” kata Pogacnik.

Prahara Galatama

Sbobet Link Alternatif

Galatama (Dok. Sbobet Link Alternatif)

Galatama diharapkan mampu menjadi cikal bakal liga profesional di Indonesia. Namun, harapan itu justru berubah menjadi prahara. Sejak dimulai pada 1979 hingga berakhir pada tahun 1994 lalu (dilebur dengan kompetisi Perserikatan menjadi Liga Indonesia), Galatama justru menjadi lahan basah bagi para penjudi.

Menurut Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”; 7 April 1984), saat musim perdana Galatama baru berjalan selama tiga bulan, Perkesa 78, salah satu peserta Galatama, sudah terlibat kasus suap. Kala itu Javeth Sibi, salah satu pemain Perkesa 78, menerima suap dari bandar judi yang bernama Jeffry Suganda Gunawan sebesar 1,5 juta rupiah. Uang itu kemudian dibagi-bagikan kepada empat rekannya. Jareth diskors PSSI selama satu tahun dan empat rekannya mendapat peringatan keras dari PSSI.

Yang menarik, kasus suap ternyata juga menghantui Warna Agung, salah satu klub penggagas Galatama yang berhasil menjadi juara edisi pertama. Endang Tirtana dan Marsey Tamabayong, dua pemain Warna Agung, pernah dijanjikan uang sebesar 2,5 juta rupiah oleh Jeffry Suganda, asal mampu membuat pertandingan antara Warna Agung dan Niac Mitra berakhir dengan skor 3-3. Kelak kasus suap yang marak di Galatama inilah yang membuat Benny Muyono, bos Warna Agung, membubarkan klubnya.

“Musim pertama, miliaran uang saya dicuri penjudi dan penyuap, saya merem saja. Musim kedua saya masih merem. Lama-lama saya tidak rela juga uang saya terus dicuri. Saya bubarkan saja Warna Agung,” kata Benny.

Sejak saat itu, kasus suap dan pengaturan skor terus-terusan menjadi karib Galatama. Pada 1982, Kaslan Rosidi, bos Cahaya Kita, pernah menskors 10 pemainnya yang terlibat dalam kasus suap. Karena jengkel, Endang Witarsa, pelatih Warna Agung, bahkan sampai memberikan ide nyentrik perkara penjudi yang berada di balik pengaturan skor.

“Kalau ketangkap, jangan dipenjara, tapi bawa pakai helikopter dan buang di tengah laut. Beri pelampung dan biskuit setiap akan menepi, tembak sisi-sisinya supaya kembali ke tengah,” kata Endang Witarsa, dilansir dari Juara.

Perkara kasus suap yang menjadi awal dari pengaturan skor tersebut, PSSI sebetulnya tak bisa tinggal diam. Pada Maret 1984 silam, mereka membentuk Tim Antisuap yang dipimpin langsung Acub Zainal, penggagas Galatama. Namun tugas mereka sangat terbatas dan mereka tidak mampu bekerja secara maksimal.

Hasilnya: para bandar judi tetap berjaya; banyak klub Galatama yang jatuh miskin dan bubar di tengah jalan; dan sepakbola Indonesia pun tak pernah ke mana-mana, sampai sekarang.

Continue Reading

Bolapedia

Cara Memberantas dan Mencegah Match-Fixing

Published

on

Link Alternatif SBOBET 2019

Di seluruh dunia, sepakbola dimainkan dengan peraturan yang sama. Maka ketika ada yang mencoba mengatur pertandingan (match-fixing), itu adalah tindakan korupsi. Tindakan korupsi termasuk penipuan dan bisa dihukum pidana.

Declan Hill, seorang akademisi dan jurnalis yang mengkhususkan dirinya kepada kasus-kasus match-fixing, berpendapat jika olahraga di Asia (bukan hanya sepakbola) adalah sebuah opera sabun komikal yang terkenal karena lawakan dan pengaturannya, bukan karena prestasi atlet-atletnya.

Semua hal tentang match-fixing berakar dari Asia. Dalam bukunya yang berjudul The Insider’s Guide to Match-Fixing in Football, Declan mengatakan jika ada sekitar dua lusin bandar judi yang merupakan kepala sindikat perjudian nasional di seluruh Asia.

“Masing-masing sindikat ini mengendalikan satu negara atau bagian substansial dari bisnis suatu negara. Salah satu rekan mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka tidak suka istilah bandar judi (bookies); mereka lebih suka super-agents dan orang yang bekerja untuk mereka adalah agent. Ini karena taruhan masih ilegal di sebagian besar negara-negara Asia, sehingga istilah bandar terlalu banyak menarik perhatian yang tidak diinginkan,” tulis Declan.

Menurutnya, para bookies berbasis di Hanoi, Bangkok, Johor Bahru, Taiwan, Jakarta, dan Manila. Kepemilikan, struktur, dan peran penting dari kepercayaan pada tingkat jaringan perjudian ilegal ini mirip dengan perdagangan heroin Asia dan bergantung pada koneksi komunitas antar etnis Tionghoa. “Di dunia judi, semua super-agent dalam struktur nasional adalah etnis Tionghoa,” tulis Declan.

Mengungkap Tidak Sama dengan Memberantas, Apalagi Mencegah

Link Alternatif SBOBET

Pada dasarnya, match-fixing itu sangat sulit dan sangat mahal untuk dapat terjadi. Oleh karena itu, ada banyak cara untuk memberantas dan mencegahnya (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Satu hal yang perlu kita tahu, match-fixing tidak pernah menjadi hal yang sederhana. Banyak orang yang tidak menyukai match-fixing, bahkan para koruptor juga tak menyukainya.

Ini bukan persoalan moral atau agama, tapi soal uang. Jika para koruptor bisa menang dengan jujur, mereka pasti memilih itu. Jika pertandingan dimenangi secara jujur, koruptor tak perlu menghabiskan uang dan sumber daya (runner, agen, dsb) tambahan. Sementara jika pertandingan menghasilkan kekalahan yang jujur, para koruptor juga tak kehilangan sepeserpun uang mereka.

Beda cerita jika pertandingan yang sudah mereka atur malah gagal (tidak sesuai dengan kemauan mereka padahal mereka sudah membayar), maka para koruptor akan kehilangan hasil pertandingan sekaligus uang dan sumber daya yang mereka gunakan untuk mengatur pertandingan.

Pada dasarnya, match-fixing itu sangat sulit dan sangat mahal untuk dapat terjadi. Oleh karena itu, ada banyak cara untuk memberantas dan mencegahnya.

Mengungkap, memberantas, dengan mencegah tentu tiga hal berbeda. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya juga, pengungkapan match-fixing umumnya dilakukan oleh polisi dan media. Acara seperti Mata Najwa (bahkan sampai dua jilid, sejauh ini) mampu mengungkapkan beberapa whistleblower yang mau mengaku “bermain”.

Namun acara seperti Mata Najwa (media) bukanlah penegak hukum yang bisa memproses kasus match-fixing. Maka penegak hukum selanjutnya yang memegang peranan penting, yaitu kepolisian.

Keseriusan media dalam mengungkap mafia sepakbola akhirnya dijawab dengan dibentuknya satgas pengaturan skor yang dipimpin langsung Kapolri, Tito Karnavian. Pertanyaan selanjutnya setelah ada berbagai pengungkapan: bagaimana cara memberantas dan kemudian mencegahnya?

Berikut adalah cara pemberantasan dan pencegahan yang mayoritas kami ambil dari bab How We Can Win pada buku Declan Hill, The Insider’s Guide to Match-Fixing in Football.

Fasilitasi dan Lindungi Whistleblower

Sbobet Link Alternatif

eran whistleblower (pengaku) itu sangat penting. Di luar negeri pun pengungkapan kasus-kasus seperti ini selalu melibatkan whistleblower(Dok. Sbobet Link Alternatif)

Untuk kasus-kasus match-fixing, peran whistleblower (pengaku) itu sangat penting. Di luar negeri pun pengungkapan kasus-kasus seperti ini selalu melibatkan whistleblower. Meski efektif, jarang ada whistleblower yang ingin mengaku di media seperti Bambang Suryo, Lasmi Indaryani, dan Budhi Sarwono.

Mereka yang mengaku, bagaimana juga, umumnya adalah pelaku yang bersalah. Kasus yang sudah-sudah, para whistleblower malah dihukum, bukan diberi penghargaan. Orang pertama yang membuka kasus korupsi (secara umum) memang jarang hidup nyaman.

Maka dari itu agar kasus-kasus seperti ini bisa terungkap, diberantas, dan dicegah, para whistleblower harus dilindungi.

Masalahnya memang mencari whistleblower itu sangat sulit. Tidak ada yang suka menceritakan kejelekan mereka sendiri bersama para rekannya. Oleh karena itu salah satu cara mendukung mereka untuk melapor adalah dengan pembentukan hotline atau call center yang independen.

Para pengaku bisa membuat laporan dengan menelepon hotline tersebutKerahasiaan mereka juga terjaga dengan cara ini.

Sistem Kompetisi Agar Minim Disusupi Mafia
Login Link Alternatif SBOBET

Cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match-fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik (Dok. Login Link Alternatif SBOBET)

Cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match-fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik. Pada banyak kasus, pengaturan pertandingan umumnya terjadi pada pertandingan yang setidaknya salah satu pihak menganggapnya sebagai pertandingan tidak penting.

Pada NBA (liga bola basket Amerika Serikat), banyak tim yang berusaha kalah sebanyak-banyaknya menjelang akhir musim untuk menduduki peringkat bawah. Mereka melakukannya karena peringkat yang lebih bawah akan mendapatkan jatah draft pick yang lebih tinggi di musim berikutnya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada kasus “sepakbola gajah” antara PSS Sleman dan PSIS Semarang pada 2014, di mana terdapat lima gol bunuh diri dalam enam menit antara kedua kesebelasan karena keduanya sama-sama ingin menghindari calon lawan kuat di fase gugur jika mereka menang.

Pada sistem kompetisi seperti liga dengan 18 kesebelasan, misalnya tidak ada bedanya finis antara posisi ke-10 dengan ke-11. Pertandingan penting menjelang akhir musim adalah pertandingan yang melibatkan gelar juara atau degradasi. Oleh karena itu kebanyakan pertandingan papan tengah bisa “dijual” kepada yang lebih membutuhkan.

Hal ini bisa dihindari dengan pemberian insentif yang lebih besar untuk setiap peringkat. Ada bedanya finis di peringkat ke-10 dengan ke-11, misalnya Rp100 juta. Jika itu dilakukan, kemungkinan terjadinya match-fixing memang akan tetap ada, namun harganya akan lebih mahal.

Selain insentif yang berbeda di setiap posisi klasemen liga, pemberian bonus penghargaan juga bisa menjadi motivasi sekaligus meminimalisasi match-fixing: seperti kesebelasan yang paling sedikit kebobolan, kesebelasan paling sedikit kartu kuning, atau di Indonesia bisa diterapkan misalnya gelar seperti “kesebelasan terbaik Indonesia Tengah”, dll.

Solusi lain yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan sistem setengah kompetisi seperti di Premiership Skotlandia atau Ekstraklasa Polandia.

Mereka menerapkan liga dengan jumlah peserta sedikit. Setengah kompetisi pertama memainkan pertandingan kandang-tandang dengan komplet, namun setengah kompetisi sisanya dilanjutkan dengan fase play-off yang menyisakan dua bagian: setengah kesebelasan teratas akan memainkan babak play-off championship, sementara setengah kesebelasan terbawah akan memainkan babak play-off degradasi.

Dengan skema liga seperti ini, setiap pertandingan akan penting untuk setiap kesebelasan sehingga akan menimalisasi potensi korupsi.

Pada intinya semakin sedikit pertandingan, maka akan semakin baik; sekaligus akan semakin kecil bisa “dimainkan”. Semakin banyak pertandingan, berarti akan semakin banyak juga pertandingan yang tidak penting. Oleh karena itu liga yang memiliki peserta lebih banyak, misalnya 20 kesebelasan, lebih rentan disusupi match-fixing daripada liga yang hanya memiliki 10 kesebelasan.

Membatasi Pergerakan Mafia
Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir

Selain menurunkan rasa kepercayaan di antara para koruptor, pencegahan juga bisa dilakukan dengan memonitor pasar taruhan (Dok. Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir)

Untuk membatasi pergerakan mafia (koruptor), biasanya pihak terkait akan mencoba meningkatkan rasa kepercayaan di antara para pejabat, administrator kesebelasan, pemain, dan wasit. Namun sejujurnya itu sulit dilakukan karena semua orang memiliki kepentingan masing-masing.

Maka dari itu yang harus dilakukan dalam memberantas dan mencegah match-fixing adalah dengan menurunkan rasa kepercayaan (alias meningkatkan kecurigaan) di antara para koruptor. Itu bisa dilakukan dengan kampanye buka-bukaan untuk menjebak para koruptor.

Contohnya begini: Pejabat liga dan pejabat kesebelasan terpilih akan mendekati calon koruptor dan mengusulkan pengaturan pertandingan. Jika koruptor tidak segera melaporkan pendekatan kepada pihak berwajib (misalnya polisi), maka dia akan menghadapi hukuman.

Seorang koruptor pada awalnya tidak bisa membedakan antara pendekatan “jujur” untuk match-fixing dan pendekatan “tidak jujur”. Pada akhirnya mungkin koruptor bisa tetap beraksi, tetapi kita dapat mengasumsikan bahwa sinyal-sinyal ini akan membuat biaya match-fixing semakin tinggi.

Selain menurunkan rasa kepercayaan di antara para koruptor, pencegahan juga bisa dilakukan dengan memonitor pasar taruhan; bisa melalui pihak ketiga seperti Genius Sport (yang sudah dilakukan PSSI). Bagaimana juga pertandingan yang berpotensi disusupi biasanya memiliki odds(peluang atau voor-voor-an) yang aneh.

Selanjutnya pembatasan pergerakan koruptor juga bisa dilakukan dengan memutus akses komunikasi. Akses ke hotel kesebelasan, lapangan latihan, sampai stadion harus dibatasi untuk orang-orang yang berkepentingan. Bahkan telepon genggam para pemain, wasit, dan administrator kesebelasan juga dimonitor.

Pada kejuaraan tenis Perancis Terbuka, pihak penyelenggara turnamen sengaja memasang alat yang membuat alat-alat komunikasi menjadi macet (jammed) di dalam stadion untuk menghindari informasi judi bisa keluar dari stadion.

Cara lain yang ternyata biasa dilakukan pihak liga di luar negeri adalah mengganti wasit secara tiba-tiba beberapa saat sebelum pertandingan. Mengganti wasit tidak sama dengan mengumumkan secara tiba-tiba. Jika pihak liga mengumumkan secara tiba-tiba, mereka justru bisa dicurigai menyembunyikan sesuatu yang berpotensi ada “permainan” di sana. Hal ini menjadi penting karena koruptor juga umumnya mendekati wasit.

Pembentukan Badan Anti-Korupsi Olahraga Internasional
Link Alternatif SBOBET Tanpa Blokir

Badan Anti-Korupsi Olahraga ini akan memiliki unit intel yang mengumpulkan informasi tentang potensi koruptor dan pendekatan mereka, sertifikasi “anti-korupsi” (Dok. Link Alternatif Sbobet Tanpa Blokir)

Sepanjang bukunya, Declan menyimpulkan jika korupsi terjadi pada segala lapisan pengurus sepakbola, dari mulai pemain, pejabat federasi, mafia kelas kakap, bahkan polisi. Maka dari itu salah satu cara memberantas korupsi adalah dengan membentuk badan anti-korupsi yang independen.

Declan memberi contoh WADA (Badan Anti-Doping Dunia) yang berhasil mengungkapkan, memberantas, dan mencegah doping di olahraga. Cara itu juga bisa diterapkan pada kasus-kasus match-fixing. Jika dipersempit di Indonesia saja, mungkin penerapannya sama seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Badan Anti-Korupsi Olahraga ini akan memiliki unit intel yang mengumpulkan informasi tentang potensi koruptor dan pendekatan mereka, sertifikasi “anti-korupsi” kepada organisasi-organisasi olahraga yang dianggap bersih.

Ide ini sangat baik di atas kertas. Namun pada kenyataannya nanti, siapa yang akan membiayai mereka? Declan menyediakan jawaban yang sangat sederhana: industri perjudian olahraga yang akan membiayai Badan Anti-Korupsi Olahraga.

Perjudian di Indonesia memang dianggap tabu, tapi tidak dengan di internasional. Perputaran uang di pasar taruhan sangat besar. Sports gambling memiliki sisi komersial dan moral untuk memastikan olahraga terlindungi dari mafia.

Di sini, Declan menawarkan solusi berupa integrity charge yang hanya tidak lebih dari 1% dari setiap taruhan yang dilakukan. Jika persentase itu dirasa sangat kecil, ternyata itu saja bisa menghasilkan puluhan miliar dolar AS setiap tahunnya.

Soal perjudian ini, sepakbola Inggris juga mengalami perbaikan soal kasus-kasus match-fixingpada 1950 dan 1960-an setelah mereka menghapus batas gaji maksimal dan pelegalan gambling.

Ujung-Ujungnya Duit

Link Alternatif SBOBET 2019

Masalah uang ini juga berlaku sebaliknya, yaitu untuk menghukum pihak-pihak yang terlibat (Dok. Link Alternatif SBOBET 2019)

Pemerintah Singapura (yang merupakan salah satu sarang mafia judi bola) memiliki cara efektif menghentikan korupsi dengan membayar pejabat-pejabat mereka dengan gaji tinggi dan tepat waktu. Penunggakan gaji adalah motivasi terbesar bagi pemain, wasit, administrator kesebelasan, dan pejabat untuk terlibat korupsi.

Apapun yang terjadi, “profesional” mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan kata amatir). Selama itu tak terjadi, “profesional” adalah jargon semata.

Pada liga yang menjunjung profesionalisme paripurna, pihak liga atau federasi biasa menyuruh kesebelasan menyetor seluruh gaji pemain dan pengurus kesebelasan mereka di awal musim dan tengah musim pada akun bank independen yang secara otomatis akan menyetor uang tersebut setiap jangka waktu tertentu (per pekan, per bulan, atau per musim).

Masalah uang ini juga berlaku sebaliknya, yaitu untuk menghukum pihak-pihak yang terlibat. Denda yang dijatuhkan harus tinggi dan tak pandang bulu. Seringnya kasus match-fixing akan membuat jera jika pemain, wasit, administrator kesebelasan, atau pejabat yang memiliki profil tinggi lah yang dihukum; artinya hukuman tak pandang bulu.

Hukuman lain yang membuat jera antara lain adalah dilarang terlibat di olahraga seumur hidup. Kebijakan yang harus diambil juga sebaiknya “one-strike-you-are-out”, alias sekalinya bersalah langsung dihukum, tanpa peringatan.

Kemudian khusus bagi Indonesia, rangkap jabatan antara pejabat kesebelasan dan pejabat federasi juga sangat memungkinkan terjadinya “permainan”, sehingga rangkap jabatan semacam ini harus dihilangkan, apalagi PSSI juga punya slogan “profesional dan bermartabat”. Memang mereka tidak/belum terbukti terlibat, tapi stigma masyarakat sudah terlanjur jelek kepada mereka. Semua keputusan menjadi penuh kecurigaan.

Olahraga dan sepakbola mengajarkan banyak hal positif kepada generasi-generasi manusia. Oleh karena itu kita semua harus melindungi olahraga dan sepakbola dari praktik-praktik kotor para koruptor.

Continue Reading

Bolapedia

Football Leaks Beberkan Sisi Gelap Sepakbola

Published

on

Football Leaks Beberkan Sisi Gelap Sepakbola

Cristiano Ronaldo terjerat masalah pemerkosaan, sejumlah kesebelasan top Eropa terungkap hendak menyiapkan Liga Super Eropa untuk musim 2021/22 mendatang, Manchester City dan Paris Saint-Germain kemudian dianggap melakukan tindakan ilegal untuk mengakali Financial Fair Play. Semua kabar menghebohkan itu merupakan sedikit hasil investigasi Football Leaks terhadap sisi gelap sepakbola.

Football Leaks mulai dikenal pada November 2015 lewat blog footballleaks2015.wordpress.com. Sebelum itu, mereka beraksi lewat situs Live Journal, yang setelah dua bulan menyajikan sejumlah fakta-fakta yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum dari sepakbola itu, akun mereka ditangguhkan.

Awalnya tidak semua data dan fakta yang disajikan Football Leaks merupakan sisi gelap sepakbola. Mereka lebih sering mengunggah dokumen-dokumen resmi di industri sepakbola dimulai dari kontrak pemain, dokumen transfer pemain, laporan keuangan kesebelasan, serta dokumen-dokumen resmi yang memang jarang diketahui khalayak.

Namun setelah mencermati dokumen-dokumen tersebut, Football Leaks kerap menemukan kejanggalan sehingga data yang diungkapkan mereka menjadi informasi yang menghebohkan. Kecurangan-kecurangan sejumlah pihak mulai diungkap oleh sejumlah media yang memang memberikan kesempatan untuk menginvestigasi dokumen dari Football Leaks. Dari situlah sisi gelap sepakbola dunia sedikit demi sedikit mulai terungkap.

Jika kalian ingat adanya kasus pajak yang melanda sejumlah pemain di Spanyol, yang di antaranya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, semua itu berasal dari dokumen yang diunggah Football Leaks. Pun begitu dengan kecurigaan-kecurigaan di sejumlah media terhadap pihak ketiga yang terlibat dalam kontrak pemain atau pembelian pemain bahkan pembelian kesebelasan.

Tujuan lahirnya Football Leaks sendiri memang mengajak semua pihak untuk mengetahui kecurangan-kecurangan yang ada di sepakbola. Seorang bernama “John” yang tentunya merupakan nama samaran dari seorang peretas pada situs Football Leaks mengatakan bahwa: “Ini merupakan kontrak dan klausul rahasia yang bisa membunuh olahraga ini.”

Link Alternatif SBOBET

Football Leaks Mengungkap Sisi Gelap para bintang Sepakbola (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Saat pindah ke blog WordPress, mereka juga mengatakan: “Kami di sini sambil mencari hostingbaru. Tapi kami kembali di laman ini tetap dengan upaya memberikan lagi lebih banyak pengungkapan dan kecurigaan tentang dunia sepakbola.”

Football Leaks memang menjadi seperti WikiLeaks (situs yang menyebarkan data-data rahasia) versi sepakbola. Karena setiap data dan fakta yang berasal dari Football Leaks tidak bisa dianggap sebelah mata atau angin lalu.

Kesebelasan Belanda, FC Twente, saat ini dihukum tidak boleh berkompetisi di Liga Champions dan Liga Europa UEFA selama tiga tahun karena data dari Football Leaks berhasil membuktikan bahwa proses transfer mereka melibatkan pihak ketiga di mana hal itu dilarang di sepakbola Eropa, khususnya Belanda. Kasus ini, yang diusut pada September 2015, menjadi kasus pertama yang melibatkan Football Leaks.

Football Leaks tidak rutin memberikan data dan fakta pada laman WordPress-nya itu. Mereka pun beberapa kali vakum untuk mengumpulkan dokumen-dokumen baru. Pada Desember 2016, mereka lantas bekerja sama dengan sejumlah media untuk menjadi investigator dengan mendirikan European Investigative Collaborations (EIC). Kemudian terungkap bahwa Football Leaks memiliki sekitar 18,6 juta dokumen (termasuk kontrak, isi surel terkait, dan data-data lain) untuk diteliti oleh anggota EIC yang diperkirakan merupakan 60 jurnalis dari 12 media di Eropa.

Senior Master Agen

Pemain bintang Barcelona juga menjadi incaran Football Leaks (Dok. Senior Master Agen)

Pada 2018, Football Leaks baru kembali menjadi perhatian dunia setelah media asal Jerman yang merupakan bagian dari EIC, Der Spiegel, mengungkap kasus tuduhan pemerkosaan Ronaldo pada seorang perempuan Amerika Serikat.

Lima investigator mereka —Rafael Buschmann, Christoph Henrichs, Gerhard Pfeil, Antje Windmann dan Michael Wulzinger— bahkan sudah mengungkapnya sejak April 2017. Namun karena gagal menyita perhatian publik, Spiegel kembali mengangkat kasus ini pada September 2018 dengan memperkenalkan sosok korban pemerkosaan Ronaldo, yang kemudian berhasil menjadi perhatian publik hingga saat ini.

Masih menurut Der Spiegel, John sudah tak lagi ingin publik hanya mengetahui detail-detail kontrak pemain dan sejenisnya tanpa mengetahui masalah yang lebih besar. John ingin publik langsung mengetahui masalah besar apa yang sebenarnya tak diketahui para pendukung dan penonton sepakbola. Singkatnya, John ingin memberi tahu khalayak bahwa ada kekuatan-kekuatan tak terlihat yang coba mengendalikan sepakbola dunia.

“Fans harus mengerti atas setiap tiket, setiap jersey yang mereka beli dan dengan setiap televisi berlangganan, mereka sedang memberi makan sebuah sistem korupsi yang sangat ekstrem untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,” kata John seperti yang diungkap Der Spiegel.

Menurut Der Spiegel, pada Desember 2016, John memberikan 8 hard disk portabel yang berisi data-data kesepakatan, isi surel, data Word, data Excel, dan foto-foto yang bersifat rahasia pada anggota EIC. Data tersebut jika dijumlahkan mencapai 1,9 terabytes, yang menurut Spiegel setara dengan 500 ribu alkitab.

Kini data-data rahasia sudah semakin bertambah. Football Leaks mengungkap kini mereka sudah memiliki 70 juta dokumen yang sudah dikompilasi dalam 3,9 terabytes data. Anggota EIC pun kini sudah bertambah menjadi 15 media, 80 jurnalis dari 13 negara dan merilisnya lewat 11 bahasa berbeda di Eropa.

Kasus Ronaldo memang hanya satu dari sekian banyak kasus yang diungkap EIC bersama Football Leaks. Masih banyak kasus lain yang sudah disingkap EIC sejak awal 2017. Kasus apa saja itu? Mari kita mengikuti jejak Football Leaks dalam upayanya menyingkap sisi gelap sepakbola dunia, khususnya Eropa.

Continue Reading

Trending