Connect with us

Bolapedia

Pengaturan Skor, Bandar Judi, dan Lagu Lama Sepakbola Indonesia

Published

on

Hantu” sepakbola Indonesia bukan cuma kegagalan-kegagalan, tapi juga pengaturan skor. Pada acara Mata Najwa bertajuk “PSSI Bisa apa?” pada 28 November 2018 lalu, Januar Herwanto, manajer Madura FC, salah satu kontestan Liga 2, mengaku pernah ditawari melakukan pengaturan skor. Tak main-main, menurut Januar, orang yang menawarinya itu adalah anggota Komite Khusus PSSI dan menyebut nama.

Kala itu, pada babak penyisihan Liga 2, Madura FC diminta mengalah saat bermain melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun, Januar menolak ajakan tersebut. Dalam pertandingan yang digelar pada tanggal 2 Mei 2018 tersebut, Madura FC pun akhirnya menang dengan skor 1-2.

“Jadi oknum Exco (PSSI) itu awalnya minta ketemu saya sebelum pertandingan saat laga babak penyisihan, kami away ke Sleman. Komunikasi itu mulai tanggal 1 dan 2 Mei lalu,” kata Januar, dilansir dari CNN Indonesia.

Madura FC tidak hanya satu dua kali mendapatkan tawaran seperti itu. Mereka beberapa kali diiming-imingi segepok uang jika menyetujui permintaan pengaturan skor. Namun, baru saat menghadapi PSS Sleman itulah Madura FC mendapatkan tawaran yang melibatkan anggota PSSI. Kekecewaan Januar pun menjadi-jadi, sehingga ia berani bicara blak-blakan di depan publik.

“Selama ini tawaran ada dari teman-teman, kami tolak dan biarkan. Tapi ini petinggi PSSI yang bermain dengan makelar. Menjijikkan sekali,” tandas Januar kepada BBC Indonesia.

Yang menarik, Bambang Suryo, mantan pelaku pengaturan skor yang juga hadir dalam acara Mata Najwa, lantas membeberkan alasan mengapa sepakbola Indonesia rentan terhadap pengaturan skor. Menurutnya, industri sepakbola Indonesia yang tidak sehat secara finansial menjadi sasaran empuk para bandar judi. Dan menyoal fulus, bagi siapa pun yang tidak “sehat”, perjudian jelas bisa menjadi jalan pintas.

Setidaknya, Ramang, Skandal Senayan, dan kompetisi Galatama pernah menjadi bukti ucapan Bambang itu.

Noda dalam Karier Gemilang Ramang

Senior Master Agen

ramang pemain sepakbola indonesia (Dok. Senior Master Agen)

Ada banyak cerita tentang kehebatan Ramang, mantan penyerang timnas Indonesia pada tahun 1950-an. Bahkan, karena saking hebatnya pemain andalan PSM Makassar itu, cerita-cerita kehebatannya menyerupai mitos.

Diwartakan Tempo (“Ramang Sudah Pergi”;3 Oktober 1987), Ramang adalah seorang penyerang tengah yang memiliki naluri gol maha dahsyat. Pada eranya, ia merupakan satu-satunya pemain Indonesia yang mampu mencetak gol melalui tendangan salto. Saat mengambil tendangan penjuru, tendangannya juga tak jarang langsung menghujam ke gawang lawan. Gol melalui tendangan first time, bukan barang langka.

Kalau kata Maulwi Saelan, kiper timnas Indonesia era 1950-an, “Dia (Ramang) bisa menembak ke gawang dengan posisi apa pun.”

Kehebatan Ramang paling diingat tentu saja saat ia berhasil mengobrak-ngabrik pertahanan Uni Soviet dalam gelaran Olimpiade Melbourne 1956. Ia tak mampu mencetak gol, ia sukses membuat Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet, jungkir balik mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Karenanya, dalam pertandingan ulang, ia lantas mendapatkan perhatian khusus dari Uni Soviet: Igor Netto, kapten Uni Soviet, diberi tugas untuk mematikan Ramang.

Sayangnya, kisah tentang Ramang ternyata tak melulu tertulis dengan tinta emas. Pada 1961 lalu, tepatnya dalam Kejurnas PSSI 1961 (Perserikatan), Ramang pernah mendapatkan sanksi larangan bertanding sumur hidup. Alasannya: Ia terlibat dalam pengaturan skor.

Semua bermula saat PSM Makassar, klub Ramang, bertanding melawan tuan rumah Persebaya Surabaya. Di atas kertas PSM Makassar sebetulnya bisa menang mudah, mengingat Persebaya Surabaya masih merupakan klub bau kencur. Namun, setelah PSM sempat unggul 1-3 pada babak pertama, Persebaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Banyak pihak lantas curiga bahwa pertandingan itu tidak berjalan normal, terlebih saat melihat para penyerang PSM yang terlalu sering membuang-buang peluang.

PSM lalu membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki pertandingan itu. Setelah melakukan penyelidikan selama beberapa minggu, tim investigasi menemukan bukti bahwa pengaturan skor terjadi dalam pertandingan itu. Yang mengagetkan, Ramang dan Noorsalam ternyata menjadi dalang di balik pengaturan skor itu.

Meski begitu, hingga ia meninggal pada 26 September 1987 lalu, Ramang tak pernah mengakui bahwa ia terlibat dalam pengaturan skor. Kepada Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”;7 April 1984), ia mengatakan, “Waktu itu, ada orang yang sentimen dengan saya. Lalu melapor kepada pengurus. Pengurus begitu saja menghukum saya.”

Ramang bahkan berani bersumpah bahwa dia tidak menerima sogok, melainkan hanya menerima hadiah dari orang yang barangkali menang judi. Dengan tandas ia juga berkata, “Hukuman itu ganjil.”

Skandal Senayan 

Link Alternatif SBOBET

Skandal Senayan menjadi salah satu noda dari sejarah sepakbola Indonesia (Dok. Link Alternatif SBOBET)

Sejak pelatih Toni Pogačnik didatangkan Presiden Sukarno dari Yugoslavia pada Januari 1954, timnas Indonesia tampak mempunyai masa depan menjanjikan. Setelah berhasil menembus babak semifinal Asian Games 1954, koran Star Weekly menyebut timnas Indonesia sebagai “Macan Asia”. Selang empat tahun kemudian, ketika Asian Games digelar di Tokyo, timnas Indonesia bahkan berhasil menggondol medali perunggu.

Alhasil, menjelang Asian Games 1962, Presiden Sukarno berpesan kepada Maladi, ketua PSSI saat itu: medali emas harga mati!

Sayangnya, harapan untuk meraih emas ternyata langsung menguap, bahkan sejak jauh hari sebelum Asian Games 1962 digelar. Sebagian besar anggota timnas yang dipersiapkan setengah mati oleh Pogacnik tersebut ternyata terlibat dalam pengaturan skor. Tak tanggung-tanggung, menurut Tempo (“Skandal Senayan di Mata Wowo”;7 April 1984) ada 18 pemain timnas yang terlibat.

Menurut laporan majalah Aneka (5 Januari 1963), setidaknya ada empat pertandingan timnas yang diatur oleh para penjudi, yakni saat timnas bertanding melawan Malmoe, Yugoslavia Selection, Thailand, dan Petrorul Tjeko Combined.

Terbongkarnya kasus itu bermula saat Maulwi Saelan melaporkan kepada Soedirgo, manajer timnas saat itu, bahwa ada yang tidak beres dengan rekan-rekannya pada 1961 lalu. PSSI lantas membentuk tim pemeriksa dan langsung bergerak ke tempat penginapan para pemain timnas. Hasilnya: mereka menemukan uang sebesar 25.000 yang baru saja diterima pemain timnas dari bandar judi. Pada saat bersamaan, Pice Timisela, salah satu pemain timnas yang terlibat dalam kasus tersebut, langsung jatuh pingsan.

Kepada Tempo, Wowo Sunaryo, pemain lain yang menerima suap, lantas menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya mau dikendalikan oleh bandar judi. Kala itu, setiap harinya, para pemain timnas hanya mendapatkan uang saku sebesar 25 rupiah. Bagi yang sudah berkeluarga, uang itu dinilai tidak cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

“Saya terpaksa menerimanya (uang suap) karena kondisi keluarga,” ujar Wowo, yang pernah menjual radio serta baju-baju yang pernah dibeli di luar negeri untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

Pogacnik, yang sempat menangis karena kejadian itu, kemudian mencoret 18 pemain tersebut dan mengganti dengan pemain lain. Pencoretan itu lalu berimbas terhadap penampilan timnas di Asian Games 1962. Timnas menjadi macan ompong. Mereka babak belur dan hanya selesai di putaran grup.

“Kalau tidak terjadi suap-suapan, tim itu dapat mencapai standar internasional,” kata Pogacnik.

Prahara Galatama

Sbobet Link Alternatif

Galatama (Dok. Sbobet Link Alternatif)

Galatama diharapkan mampu menjadi cikal bakal liga profesional di Indonesia. Namun, harapan itu justru berubah menjadi prahara. Sejak dimulai pada 1979 hingga berakhir pada tahun 1994 lalu (dilebur dengan kompetisi Perserikatan menjadi Liga Indonesia), Galatama justru menjadi lahan basah bagi para penjudi.

Menurut Tempo (“Suap, Buat Apa Galatama?”; 7 April 1984), saat musim perdana Galatama baru berjalan selama tiga bulan, Perkesa 78, salah satu peserta Galatama, sudah terlibat kasus suap. Kala itu Javeth Sibi, salah satu pemain Perkesa 78, menerima suap dari bandar judi yang bernama Jeffry Suganda Gunawan sebesar 1,5 juta rupiah. Uang itu kemudian dibagi-bagikan kepada empat rekannya. Jareth diskors PSSI selama satu tahun dan empat rekannya mendapat peringatan keras dari PSSI.

Yang menarik, kasus suap ternyata juga menghantui Warna Agung, salah satu klub penggagas Galatama yang berhasil menjadi juara edisi pertama. Endang Tirtana dan Marsey Tamabayong, dua pemain Warna Agung, pernah dijanjikan uang sebesar 2,5 juta rupiah oleh Jeffry Suganda, asal mampu membuat pertandingan antara Warna Agung dan Niac Mitra berakhir dengan skor 3-3. Kelak kasus suap yang marak di Galatama inilah yang membuat Benny Muyono, bos Warna Agung, membubarkan klubnya.

“Musim pertama, miliaran uang saya dicuri penjudi dan penyuap, saya merem saja. Musim kedua saya masih merem. Lama-lama saya tidak rela juga uang saya terus dicuri. Saya bubarkan saja Warna Agung,” kata Benny.

Sejak saat itu, kasus suap dan pengaturan skor terus-terusan menjadi karib Galatama. Pada 1982, Kaslan Rosidi, bos Cahaya Kita, pernah menskors 10 pemainnya yang terlibat dalam kasus suap. Karena jengkel, Endang Witarsa, pelatih Warna Agung, bahkan sampai memberikan ide nyentrik perkara penjudi yang berada di balik pengaturan skor.

“Kalau ketangkap, jangan dipenjara, tapi bawa pakai helikopter dan buang di tengah laut. Beri pelampung dan biskuit setiap akan menepi, tembak sisi-sisinya supaya kembali ke tengah,” kata Endang Witarsa, dilansir dari Juara.

Perkara kasus suap yang menjadi awal dari pengaturan skor tersebut, PSSI sebetulnya tak bisa tinggal diam. Pada Maret 1984 silam, mereka membentuk Tim Antisuap yang dipimpin langsung Acub Zainal, penggagas Galatama. Namun tugas mereka sangat terbatas dan mereka tidak mampu bekerja secara maksimal.

Hasilnya: para bandar judi tetap berjaya; banyak klub Galatama yang jatuh miskin dan bubar di tengah jalan; dan sepakbola Indonesia pun tak pernah ke mana-mana, sampai sekarang.

Bolapedia

Liga Inggris Pekan Ini Sukar Ditebak, Nasib Prediksi?

Published

on

Liga Inggris Pekan Ini Sukar Ditebak, Nasib Prediksi?

Anggapan bahwa liga Inggris pekan ini sangat susah ditebak atau diprediksi memang tepat. Tim raksasa sekelas Arsenal berhasil ditaklukkan oleh klub Tottenham Hotspur. Kemenangan ini juga menjadi tonggak dari klub ini dalam menutup buku rekor hitamnya.

Klub yang kerap disebut sebagai The Lilywhites ini dalam klasemen akhir liga Inggris sudah dipastikan akan berada di atas tim Arsenal. The Gunners berakhir dengan catatan buruk. Tim ini mengukir catatannya saat melakoni laga di White Hart Lane.

Dilansir dari bandarjudiqq 66, Arsenal dihantam kekalahan dengan skor dua gol tanpa perlawanan. Tentu saja ini hal yang memalukan bagi The Gunners, sedangkan bagi The Lilywhites pertandingan ini merupakan laga yang sangat membanggakan. Kedua tim ini mempunyai selisih yang cukup lebar, yakni mencapai 17 angka.

Tetapi keuntungan didapatkan oleh Spurs, sebab Arsenal hanya memiliki lima laga lagi, maka sudah jelas tidak mungkin untuk menyusul apalagi mengalahkan peringkat dari tim asuhan Maurido ini.

Maurido Pochettino menyebutkan bahwa tim asuhannya sudah menunggu lama untuk memenangkan finish di atas klub Arsenal. Pelatih sekaligus manajer ini mengatakan bahwa klubnya harus menunggu selama 22 tahun untuk merayakan kemenangan ini.

Maka dari itu, strategi serta pemain yang tepat, dengan keahlian dan posisi yang tepat, akan membuat klub ini terus berjaya dalam laga. Tetapi liga Inggris pekan ini memang sukar diprediksi. Gelar juara merupakan hal paling utama yang dicari oleh seluruh klub liga Inggris.

Dengan penampilan yang sempurna serta manuver yang cantik dan canggih, Maurido optimis bahwa timnya akan membawa gelar juara. Secara komprehensif, tim asuhannnya memang mempunyai kelebihan dan layak untuk memang. Maka sangat wajar jika Maurido sangat percaya diri.

Baginya ini merupakan keberhasilan dirinya dalam mengasuh dan membina serta mengelola klub. Dengan menargetkan diri untuk menyabet gelar juara liga, perjuangan sudah hampir selesai. Hanya saja perlu diingatkan kembali bahwa liga Inggris pekan ini sangat sukar ditebak, sehingga dibutuhkan analisis yang sangat mendalam untuk mengerti jalannya laga.

Continue Reading

Bolapedia

Mengubah Citra Klub Sepakbola Lewat Sponsor

Published

on

Mengubah Citra Klub Sepakbola Lewat Sponsor

Dari keripik, cat tembok, operator telepon selular, perusahaan perjudian, sampai maskapai penerbangan. Endorsement bernilai tinggi adalah hal menggiurkan bagi klub sepakbola. Tetapi apakah itu sebanding dengan yang didapatkan klub?

Musim ini Liverpool mengumumkan kerja sama dengan maskapai penerbangan negara kita, Garuda Indonesia. Lambang satu dari beberapa kebanggaan negara ini terpampang di kaus (latihan), jaket, papan iklan stadion, dan tempat-tempat menarik lainnya yang berkaitan dengan Liverpool.

Pemasaran adalah segalanya bagi endorsement. Ini adalah alasan utama Manchester United yang tidak sukses musim lalu, justru mendapatkan pemasukan yang melebihi tim-tim yang sekarang berlaga di Liga Champions.

Meski kebangkitan sponsorship dalam sepakbola bisa dikatakan mendatangkan gelontoran uang banyak, tak jarang hal ini harus ditukar dengan “jiwa” klub sepakbola sendiri. Ya, inilah realita klub modern yang harus menukar esensi demi menjaga eksistensi dan kondisi keuangan mereka sendiri.

Asia sebagai Pabrik Sponsor

Sejak papan iklan menjadi tren di sepakbola Inggris pada tahun 1970-an, uang sponsor sudah merambat dan menggerogoti setiap sisi stadion dan setiap helai jersey yang dipakai oleh para pemain.

Pada Juli 1979, Liverpool-lah yang membuat tren penggunaan sponsor pada seragam sepakbola menjadi booming. Saat itu, mereka dikontrak oleh Hitachi. Pabrik elektronik asal Jepang tersebut dikabarkan membayar 50 ribu pounds untuk sponsorship itu, satu nilai yang sangat ‘wah’ pada masanya.

Meski banyak klub mengikuti jejak Liverpool, penggunaan sponsor pada seragam tim sempat dilarang sampai tahun 1983. Saat itu sempat terjadi kasus mencengangkan ketika Coventry City ingin mengubah namanya menjadi Coventry Talbot, yang diambil dari nama perusahaan mobil lokal.

Sekarang, Liga Premier Inggris sudah lebih dari dua dekade menampilkan nama sponsor di depan namanya. Ini memang menjadi tamparan sekaligus menjadi kebangkitan dari potensi yang dimiliki pemasaran dalam sepakbola.

Dalam satu dekade saja banyak hal yang dulunya dianggap tabu menjadi terlihat biasa saja: hak penamaan stadion, background pada konferensi pers yang menampilkan logo-logo sponsor, papan iklan di stadion, iklan di media klub, bahkan pengubahan nama klub.

Liga Inggris memang telah menjadi alat pemasaran terbesar dalam dunia olahraga bersama Formula 1 (yang seragam dan mobilnya dipenuhi banyak sekali sponsor). Bedanya, di Liga Inggris, bahkan tim kecil sekalipun bisa berpotensi menjadi alat pemasaran.

Sebagai raksasa industri, China pertama kali menginjakkan kakinya di Liga Premier dengan mensponsori Everton pada musim 2002-2003. Mereka menggunakan Kejian, perusahaan telepon genggam, sekaligus bersedia membayar gaji pemain China yang bermain di Everton, Li Tie.

Bagi klub, menggunakan merek dari Asia bisa menjadi hal bagus. Mereka bisa mendapatkan ekspos, fans baru, dan uang yang bisa mereka habiskan untuk apa saja.

Mesin Komersial Penghasil Uang

Berdasarkan laporan Deloitte musim lalu, Manchester United mendapatkan 363,2 juta poundsterling dari pendapatan matchday, hak siar, dan komersial. Angka ini adalah angka yang paling besar di antara seluruh tim Liga Inggris lainnya. Di bawah mereka ada tim tetangga, Manchester City, dengan angka 271 juta poundsterling.

Patut diperhatikan bahwa 42% pendapatan MU berasal dari sektor komersial, melebihi matchday dan hak siar. Mereka memiliki 40 kontrak resmi yang mengkomunikasikan seluruh dunia. Dari wine asal Chile (Casillero del Diablo) sampai perusahaan keripik asal Malaysia (Mister Potato), sangat mudah melihat kekuatan komersial The Red Devils. Mereka memiliki strategi komersial yang terstruktur dan orang-orang yang tepat untuk mengiklankan klub dan juga sponsor mereka.

Otak di balik deal pemasaran MU adalah Richard Arnold, sang direktur komersial. Tidak heran, MU yang terletak di kota Manchester, memiliki kantor pusat pemasaran mereka di kota London.

Pekerjaan Arnold tidaklah mudah, ia harus merinci banyak kontrak potensial yang dijejalkan kepada klub untuk kemudian dipilih beberapa saja yang paling potensial. Untuk mendukung keputusannya itu, ia dan klub sampai membuka “kantor cabang” di Hong Kong dan juga satu lagi yang rencananya akan dibuka di New York.

Jika melihat kasus ini, kita bisa mengira-ngira bahwa tim-tim kecil memang tidak memiliki kesempatan sebesar MU. Tercatat, sesuai dengan laporan Deloitte juga, hanya kemampuan finansial City yang mampu menyaingi pasar MU secara global.

Masih menurut Deloitte, kesempatan terbesar mengenai dana selalu berasal dari sektor maskapai penerbangan. Maskapai penerbangan ini memang sangat bersifat internasional, begitu pula dengan kartu kredit dan perusahaan telepon genggam.

Hal ini menyebabkan terbatasnya deal yang bisa klub jalankan bersama perusahaan-perusahaan di atas. Biasanya, hanya satu saja dari masing-masing perusahaan di atas yang bisa melakukan perjanjian kerja sama dengan klub.

Ditambah lagi kebijakan dari masing-masing negara (asal perusahaan), maka klub tidak bisa seenaknya melakukan kesepakatan dengan lebih dari satu perusahaan besar di suatu negara.

Perusahaan akan mendapatkan nilai tambah, sementara fans juga pasti mau memakai produk yang berkaitan dengan klub yang mereka bela. Secara teoritis, lebih banyak sponsor, maka akan lebih banyak juga uang yang akan datang.

Musim lalu saja misalnya, kita bisa melihat wajah Wayne Rooney sebagai bintang iklan Mister Potato (bahkan bermain video klip bersama dengan Nidji dan Mister Potato).

“Dapatkah Anda memberitahu kepada saya apa itu Mister Potato sebelum iklan ini muncul?” tanya Arnold, khususnya kepada mereka yang bukan berasal dari negara Asia Tenggara yang sudah sedikit familiar dengan merek keripik kentang itu.

Itulah kekuatan pemasaran sebagai brand awareness.

Klub Menjual Diri

Meski membutuhkan gelontoran uang, tak semua sponsor bisa diambil klub, meski mereka menawarkan nilai yang fantastis. Klub, terutama mereka yang besar, tetap perlu berkalkulasi terutama untuk menjaga citra positif.

Mereka tidak mau dengan mudahnya menjual diri mereka, tidak seperti tim-tim kecil atau tim dari liga seperti liga di Skandinavia yang bisa sampai memiliki 15 sponsor di seragam, yang diletakkan sampai ke bagian belakang baju, lengan, celana, bahkan kaus kaki.

Barcelona menjadi contoh yang meninggalkan image mereka dengan menandatangani kerja sama sponsor bersama Qatar Airways. Padahal sudah 100 tahun lebih seragam mereka dijaga kesuciannya dari “kotornya” komersialisasi.

“Jika kita mau menjadi tim paling top, kita butuh dana,” kata Sandro Rossell, mantan presiden Barcelona.

Namun, tidak semua kesepakatan sponsor berjalan dengan damai. Kadang pemasaran menimbulkan banyak perdebatan, terutama bagi para fans.

Tetapi ini tidak menghalangi klub untuk melakukan kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan. Bahkan caranya pun kian kreatif, yaitu dengan dengan menjual fasilitas klub untuk penamaan serta re-brand, seperti kasus Cardiff City yang mengubah warna klub mereka dari biru ke merah.

Contoh lainnya juga ada pada klub Kota New York, Salzburg, dan Leipzig yang semuanya disponsori oleh Red Bulls. Secara otomatis nama klub mereka berubah.

“Saya lebih rela jika klub menjadi komersil, tetapi kita bisa bersaing di tingkat atas daripada harus menjadi klub semenjana. Saya memang tidak senang, tetapi tidak ada pilihan lain,” kata Peter Ribbons, seorang fans Cardiff.

Tidak semua fans senang dengan perubahan ini. Cardiff, yang kini harus kembali berlaga di Championship akibat degradasi dari Liga Primer pada musim lalu, dijanjikan oleh pemilik klub (Vincent Tan) untuk kembali memakai warna biru jika mereka bisa kembali ke Liga Primer secara instan musim depan.

Protes keras fans juga terjadi di Salzburg. Setelah Red Bull Salzburg terbentuk. Salah seorang fans berujar, “Ini adalah klub baru yang tidak memiliki sejarah”. Apa mau lacur, seragam Salzburg yang tadinya berwarna ungu pun diganti dengan cuma-cuma menjadi warna merah dan biru.

Mereka memang sukses menjuarai Liga Austria lima kali. Namun, saking muaknya, ribuan fans idealis pun lalu membuat klub sendiri yang berwarna ungu, SV Austria Salzburg.

Kesimpulan

Sponsor adalah sebuah model bisnis yang kuat yang dapat menjadi faktor eksternal yang berpengaruh bagi internal tim di atas lapangan. Dari segi bisnis, sponsor sebagai pemasaran sepakbola adalah hal menguntungkan.

Namun, hal ini juga seringkali menciptakan citra tertentu bagi klub. Tinggal sebesar apa pengaruh image (citra) sponsor tersebut pada identitas klub yang telah terbentuk selama puluhan, bahkan ratusan, tahun. Satu hal yang jelas: semakin besar image yang diciptakan sponsor, tentunya akan semakin besar juga uang yang klub dapatkan.

Apakah uang adalah segalanya di sepakbola? Untuk sementara jawabannya adalah “Ya. Benul: benar dan betul!”, dan mungkin jawaban ini akan bertahan untuk waktu yang sangat panjang.

Continue Reading

Bolapedia

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Published

on

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Qatar menunjukkan perkembangan signifikan jelang debut mereka di Piala Dunia 2022 ketika menjadi tuan rumah. Keberhasilan Qatar melaju ke partai final Piala Asia 2019 telah menjadi pencapaian bersejarah dalam sepakbola mereka.

Qatar memperlihatkan diri bisa membuat kejutan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Keberhasilan mereka melangkah ke final Piala Asia 2019 dengan skuad muda menjadi indikasi pasukan Felix Sanchez Bas tidak mau sekadar jadi penggembira.

Tim berjuluk Al-Annabi melangkah ke final bersua Jepang pada babak final Piala Asia 2019 di Zayed Sport City, Uni Emirat Arab (UEA) nanti malam. Sebenarnya, kalah atau menang melawan Jepang, Qatar sudah memperlihatkan mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka sudah mengejutkan Piala Asia. Berstatus non-unggulan, Hasan Al Heidos dkk mematahkan prediksi dengan keluar sebagai juara Grup E. Berturut-turut Qatar menyingkirkan tim-tim kuat macam Irak 1-0 (16 besar), Korea Selatan 1-0 (perempat final), dan tuan rumah UEA 4-0 (semifinal). Hebatnya, Qatar melaju ke final dengan rekor 100%.

Ambisi Qatar di Piala Asia 2019, Tumbangkan Sang Tuan Rumah

Pemain Qatar (Dok. Onbet 789)

Qatar sukses menembus babak puncak turnamen untuk pertama kalinya berkat aihan kemenangan besar 4-0 atas tuan rumah Uni Emirat Arab (UEA) dalam laga semi-final, Selasa (29/1) kemarin.

Sebuah prestasi yang sangat diapresiasi oleh pelatih mereka, Felix Sanchez Bas, yang memberikan kredit khusus kepada kinerja Federasi Sepakbola Qatar (QFA) dengan program bermanfaat bagi kemajuan sepakbola.

Bas menilai, program yang telah dirancang matang menjadi poin penting mencuatnya Qatar di Piala Asia 2019. “Kami telah mendapatkan banyak kepercayaan diri. Tetapi, apa yang kami perlihatkan sejauh ini bukanlah sebuah kejutan. Kami telah bekerja keras mencapai tahap ini selama bertahun-tahun,” ungkap Bas dilansir bandarjudiqq daftar99.

Meski telah menembus final Piala Asia pertama kalinya sepanjang sejarah, Bas mengatakan pasukannya termotivasi membawa Qatar meraih trofi perdana di turnamen kompetitif. Guna mewujudkannya, Bas bakal memaksimalkan komposisi terbaik. Almoez Ali yang merupakan pencetak gol terbanyak sementara Piala Asia 2019 dengan delapan gol diplot sebagai andalan lini depan.

Qatar tinggal selangkah lagi untuk bisa mewujudkan sejarah lainnya dengan menjadi juara Piala Asia apabila mampu mengalahkan raksasa Asia, Jepang di Zayed Sports City Stadium, Abu Dhabi, Jumat ini.

Continue Reading

Trending